Menjajal Upacara Minum Teh ala Negeri Ginseng

REKANBOLA – Tenang dan nyaman. Dua kata itu kiranya yang saya rasakan saat berada di Museum Teh Osulloc. Dari balik dinding kaca, hamparan kebun dan taman-taman yang cantik menemani upacara minum teh di museum yang berlokasi di Pulau Jeju, Korea Selatan ini.

Museum Osulloc adalah salah satu destinasi wisata favorit milik Korea Selatan. Selain menyajikan perkebunan teh dan toko suvenir, Osulloc juga menyediakan kelas upacara minum teh.

Saya beruntung karena berkesempatan mempelajari tata cara minum ala Korsel atau yang dikenal dengan istilah ‘darye‘. Upacara itu saya lakoni bareng para delegasi 2019 KF ASEAN Next-Generation Leaders Visit Korea Program in Media.

Tak banyak peserta upacara yang turut serta. Maklum, satu kelas hanya terbatas untuk 20 peserta. Kocek sebesar 30 ribu won atau sekitar Rp362 ribu harus dirogoh demi mendapatkan pengalaman ini.

Kelas dipandu oleh seorang ahli pembuat teh. Ia dibantu dua orang lainnya yang menyediakan keperluan upacara minum teh.

Pada sesi pertama, saya belajar cara membuat teh hijau. Setiap peserta, termasuk saya, menerima dua cangkir, dua teko, dan satu mangkuk.

Cangkir di sebelah kiri diperuntukkan untuk pembuat teh, sedangkan cangkir sebelah kanan untuk tamu. Mangkuk berfungsi untuk menurunkan suhu air panas dan menampung air sisa.

Ada juga teko tanah liat yang berfungsi untuk menyeduh teh hijau. Sementara teko keramik berisi air panas digunakan untuk menyeduh teh.

Pertama-tama, air panas dituangkan ke dalam mangkuk untuk menurunkan suhu. Setelah sekitar dua menit, air dituangkan secara perlahan ke teko tanah liat dan dua cangkir yang telah disiapkan.

Baca Juga:   5 Tren Aktivitas Wisata Sepanjang Tahun 2018

Langkah ini dilakukan untuk membersihkan teko dan cangkir yang akan digunakan. Cara ini juga mampu menghangatkan cangkir dan teko agar suhu air tak turun saat teh diseduh.

Setelah sekitar dua menit, air dalam teko dan cangkir dipindahkan ke mangkuk. Di sana, proses menyeduh teh pun dimulai.

Sebagai langkah pertama proses seduh, daun teh hijau yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam teko. Air panas kemudian dituangkan ke dalam teko.

Penuangan air panas dilakukan sambil menarik teko ke atas untuk mengeluarkan rasa teh dan suara yang menenangkan. Tangan kanan digunakan untuk memegang kuping teko, sedangkan tangan kiri untuk menutup teko agar tak tumpah.

Keunikan teh hijau adalah bisa langsung disajikan usai diseduh. Maka langkah selanjutnya adalah menyajikannya pada sesi kedua.

Korsel mengenal etika penyajian teh. Teh dituang secara bergantian ke dalam dua cangkir sedikit demi sedikit. Penuangan secara bergantian membuat rasa menjadi merata.

Tak sembarangan teh dituangkan. Tuangan pertama ditujukan untuk cangkir si pembuat. Sementara tuangan terakhir, dengan kandungan rasa terbaik, diberikan untuk cangkir tamu.

Tak dinyana, teh pun rampung disajikan. Kini gilirannya menikmati teh yang telah dibuat sebelumnya. Saya bersama peserta lain saling bertukar teh buatan masing-masing dan bersama-sama menyeruputnya.

Puas dengan teh buatan sendiri alakadarnya, giliran saya menikmati teh buatan sang ahli. Kali ini bukan teh hijau yang disajikan, melainkan teh hitam. Hasil seduhan berwarna merah dengan daun teh yang kehitaman.

Sederet kudapan menemani sajian teh hitam buatan sang ahli. Mencecap rasa asli teh yang bercampur dengan berbagai rasa kudapan, nikmat tak terkira.