Mereka yang Menggantungkan Hidup dari Action Figure

Rekanbola – Sudah lebih dari 10 tahun Bina Azhar Lufian menggantungkan hidupnya dari action figure. Berawal dari seorang kolektor, Bina kemudian menjajal peruntungan pada bisnis action figure pada 2004 silam. Zaman-zaman itu bisa dibilang cukup berani bagi Bina dalam menjalankan bisnis action figure. Sebab, saat itu peminat action figure belum seramai sekarang.

Action figure sendiri sejatinya adalah mainan. Namun mainan tersebut biasanya banyak diminati orang dewasa karena harganya yang terbilang tinggi untuk sebuah ‘boneka mainan’ anak kecil. Action figure itu juga bisa dijadikan bahan investasi karena permintaannya yang cukup tinggi. Dari situlah biasanya banyak orang yang berbisnis action figure.

Tapi jangan salah, bisnis yang dilakoni oleh Bina bukan bisnis jual-beli action figure. Melainkan jasa custom action figure. Ibaratnya, bagi mereka yang senang mengutak-atik koleksi action figure pribadi, bisa datang ke Bina untuk diubah jadi lebih menarik. Mulai dari mengubah bentuk badan, warna, hingga yang lainnya.

Bina pun bercerita, awalnya ia tertarik pada action figure dari membaca komik dan mengumpulkan mainan figure pada 1990-an. Hingga akhirnya saat krisis moneter melanda pada 1997-1998 hobi mengoleksi mainannya terhenti. Dolar AS menggila, action figure yang merupakan barang impor juga mulai hilang di pasaran.

Cara meng-custom action figure itu pun dipelajari Bina saat kuliah. Bermodal tutorial dari majalah dan komik luar, Bina pede bisa mengutak-atik mainan jadi lebih menarik. “Jadi saya ngeliatnya ‘ah, kita mah bisa bikin beginian (custom mainan)’, jadi otodidak kadang-kadang kita eksperimen sendiri,” cerita Bina .

Hingga pada 2005-2006, Bina memutuskan untuk mendirikan workshop sendiri di kawasan Bendungan Hilir. Bina menyebutnya sebagai bengkel, namanya Fuma Studio. Kebetulan, saat itu Bina sudah bekerja di suatu perusahaan, namun karena kesal tak diangkat jadi pegawai tetap akhirnya Bina memilih keluar. Saat itulah, Bina mulai kembali menjalankan hobinya untuk mencustom action figure. Dia melihat peluang dari komunitas yang mulai bermunculan di era internet saat itu.

Baca Juga:   Monchi Bagikan Tips untuk Jadi Direktur Olahraga Jempolan

“Jadi saya ngeliat ini komunitas ini kelihatannya udah siap saya pikir. Kalau orang dulu mainan rusak dibuang kan gitu, karena harga nggak terlalu mahal. Tapi sekarang orang ada mainan rusak kalau bisa dibenerin, ya dibenerin. Jadi pikiran saya ke custom dan service mainan,” kata Bina.

Teman kuliah Bina di Universitas Trisakti, Adi Batara juga punya minat yang sama terhadap bisnis action figure. Berawal dari koleksi, Adi juga kemudian ikut belajar custom dengan Bina. Keduanya pun sama-sama menjalankan bisnis yang bisa dibilang unik tersebut bagi orang-orang yang awam mengkoleksi mainan.

(Kredit : www.Detik.com)