Mungkin Lupa, Ternyata 11 Nama Jalan di Jakarta ini Punya Sejarah yang Unik

Rekanbola.com –  Seperti yang udah diketahui, bahwa Pemda baru saja melakukan sosialisasi perubahan nama jalan di beberapa jalan di jakarta, seperti di Jalan terusan mampang prapatan – jalan warung buncit – diusulkan diubah jadi jalan AH Nasution.

Ngeganti nama jalan gak bisa seenak perut. Pasalnya, nama jalan terkait dengan sejarah dari warga betawi ratusan tahun yang lalu. Jalan juga yang membentuk identitas dari suatu daerah, bahkan suatu bangsa.

Mungkin pernah tahu atau udah lupa, berikut sejarah nama-nama jalan dan daerah di Jakarta,

Jalan Mampang Prapatan

pasar mampang tahun 1930 indonesiajamandulu (facebook)
pasar mampang tahun 1930 indonesiajamandulu (facebook)

Jalan mampang prapatan yang juga dijadikan nama kecamatan dan kelurahan di Jakarta Selatan berasal dari kata ‘mampang’ dari bahasa Betawi yang artinya terpampang atau terlihat jelas. Dan prapatan yang artinya perempatan. Jadi maksud dari jalan Mampang Prapatan ini adalah simpang empat jalan di mana sangat mudah terlihat dengan jelas baik bagi pejalan kaki dan pengguna kendaraan bermotor.

Jalan Warung Buncit

penampakan watung kelontong jaman dulu otakcerdas.com
penampakan watung kelontong jaman dulu otakcerdas.com

Jalan atau daerah Warung Buncit berasal dari sebutan orang ke sebuah toko kelontong mirip orang Tionghoa yang ada di sana zaman dulu, namanya Bun Tjit. Letaknya persis di perempatan duren tiga – mampang prapatan dan jalan warung jati barat. Dulu wilayah warung buncit adalah wilayah pertanian, bahkan namanya dulu adalah kampung pulo kalibata. Saking maju pesatnya itu warung, orang jadi ingatnya dengan warung buntjit ketika mereferensikan nama jalan tersebut.

Jalan Glodok

Glodok, antara 1953 dan 1960 dok. commons.wikimedia.org
Glodok, antara 1953 dan 1960 dok. commons.wikimedia.org

Jalan atau daerah Glodok yang berlokasi di Jakarta Barat dulunya berasal dari kata ‘gerojok’, sebutan bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Ceritanya dulu di tempat itu ada semacam waduk penampungan air Sungai Ciliwung. Namun, orang Tionghoa sulit menyebut kata gerojok. Sebagai gantinya mereka menyebut kata glodok sehingga daerah tersebut dikenal dengan nama glodok.

Baca Juga:   Lakukan 8 Hal Ini, Kamu akan Menjalani Hidup Bahagia

Senayan

senayan tahun 1962 arungmaya.blogspot.co.id
senayan tahun 1962 arungmaya.blogspot.co.id

Senayan adalah daerah milik saudagar asal Bali yang bernama Wangsanayan. Tanah tersebut disebut warga dengan sebutan Wangsanayan yang berarti tanah tempat tinggal atau tanah milik Wangsanayan. Seiring perkembangan, banyak orang hanya menyebutkan akhirannya saja, Senayan.

Jalan Kwitang

gedung stovia di Kwitang (sekarang museum kebangkitan nasional) tirto.id
gedung stovia di Kwitang (sekarang museum kebangkitan nasional) tirto.id

Jalan Kwitang di Jakarta Pusat, dulu sebagian besar tanahnya dimiliki oleh tuan tanah asal Tionghoa bernama Kwik Tang Kiam. Orang Betawi zaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampungnya si Kwitang sampai akhirnya tempat tersebut hanya dinamai Kwitang.

Jalan Menteng

jalan menteng raya bayugunanjar.wordpress.com
jalan menteng raya bayugunanjar.wordpress.com

Jalan Menteng tak lepas dari buah yang bernama buah Menteng. Buah ini dulu tumbuh di daerah yang dulunya hutan. Sehingga ketika dijadikan kampung, banyak orang menyebutnya kampung Menteng. Setelah tanah itu dibeli oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai Pemerintah Hindia Belanda, daerah itu kemudian dikenal dengan nama Menteng.

Kebayoran

dharmawangsa, kebayoran masih sepiiiiih dok. istimewa
dharmawangsa, kebayoran masih sepiiiiih dok. istimewa

Jalan atau daerah Kebayoran di Jakarta Selatan berasal dari kata kebayuran, yang artinya tempat penimbunan kayu bayur, kayu yang kokoh buat dijadikan bahan bangunan. Akhirnya, kebayuran kerap kali disebut orang dengan sebutan Kebayoran.

Jalan lebak bulus

Jalan atau daerah Lebak Bulus diambil dari kata “lebak” yang artinya lembah dan “bulus” yang berarti kura-kura. Jadi lebak bulus artinya lembah kura-kura. Disebut lembah kura-kura karena memang di daerah ini punya dua sungai yang di dalamnya banyak sekali kura-kura. Sungainya sih masih ada tapi gak tau masih ada kura-kuranya atau gak.

Jalan Kebagusan

nyuci di ciliwung dok. commons.wikimedia.org
nyuci di ciliwung dok. commons.wikimedia.org

Jalan atau daerah Kebagusan di Jakarta Selatan ini berasal dari nama gadis jelita, Tubagus Letak Lenang. Kecantikan gadis keturunan kesultanan Banten ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya. Namun kisah ini berujung tragis, Agar tidak mengecewakan hati para pemuda, Tubagus akhirnya memilih bunuh diri. Makam Tubagus sampai sekarang masih ada dikenal dengan nama Ibu Bagus.

Baca Juga:   Ramalan Zodiak Sagitarius 3 Februari 2018

Jalan Ragunan

kebun binatang cikini, sebelum dipindah ke ragunan dok. jakartatempodulu-56.blogspot.co.id
kebun binatang cikini, sebelum dipindah ke ragunan dok. jakartatempodulu-56.blogspot.co.id

Daerah atau Jalan Ragunan berasal dari kata Wiraguna, yaitu gelar yang disandangkan dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa kepada tuan tanah pertama di kawasan tersebut bernama Hendrik Lucaasz Cardeel. Lama kelamaan, daerah itu dikenal dengan sebutan Ragunan.

Cawang

topeng monyet di jakarta era 50an dok. forum.detik.com
topeng monyet di jakarta era 50an dok. forum.detik.com

Zaman belanda dulu, ada seorang letnan Melayu yang mengabdi pada kompeni, bernama Ende Awang. Ende Awang bersama anak buahnya bermukim di kawasan ini. Saking terkenalnya si Letnan Ende Awang, lama kelamaan sebutan Ende Awang berubah menjadi Cawang.

Referensi: Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta, Dinas Pariwisata dan Permuseuman Pemprov DKI Jakarta, 2004

 

**Jangan Lupa mampir di lapak lainnya Gaes!!

Baca Juga :

 

Hasil gambar untuk MInion logo