Musim Panen Ketiga, harga Beras di Kudus Berangsur Naik

Rekanbola Harga beras di pusat perdagangan beras di Pasar Baru Kudus, Jawa Tengah, pada pekan ini mulai naik secara bervariasi, menyusul selesainya panen tanaman padi di sejumlah daerah.

Salah seorang pedagang beras di Pasar Baru Kudus Efendi mengatakan, kenaikan harga beras terjadi sejak sepekan terakhir menyusul terbatasnya stok beras di pasaran.

“Maklum saja, saat ini sudah memasuki musim panen ketiga yang biasanya tidak ada lagi panen tanaman padi,” ujarnya, Senin (22/10).

Bahkan, kata dia, di wilayah Kudus dan sekitarnya tidak ada lagi panen, sehingga pasokan beras yang diterima saat ini merupakan beras dari wilayah Jawa Timur.

Akibat kelangkaan stok beras di pasaran, harga jual beras di pasaran merangkak naik, meskipun belum terlalu signifikan.

Harga jual beras jenis SS biasa saat ini naik dijual dengan harga Rp9.000 per kilogram, sedangkan sebelumnya dijual dengan harga Rp8.500/kg untuk tingkat pedagang.

Untuk beras jenis SS super, katanya, naik Rp300 menjadi Rp9.800/kg, sedangkan beras mentik naik Rp100 menjadi Rp9.300/kg, dan mentik wangi naik Rp200 menjadi Rp10.000/kg.

Transaksi penjualan beras selama sepekan terakhir, lanjut dia, cenderung sepi karena penjualannya tidak sampai 1 ton per hari.

“Pelanggan terbanyak merupakan pedagang, sedangkan masyarakat umum membelinya hanya untuk kepentingan memasak saja sehingga tidak banyak,” ujarnya.

Apabila pelanggannya yang merupakan pedagang eceran tidak kulakan, katanya, omzet penjualannya dipastikan turun.

Hal senada diungkapkan Kusmi, pedagang beras lainnya mengakui tinggi rendahnya omzet penjualannya disesuaikan dengan jumlah pedagang eceran yang kulakan di tempatnya.

“Jika hanya mengandalkan konsumen rumah tangga, maka penjualannya dipastikan rendah,” ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, saat ini harga berbagai jenis beras mulai mengalami kenaikan secara bervariasi.

Baca Juga:   Liverpool Kembali ke Puncak Klasemen, Klopp: Tak Begitu Penting

Ia mengakui masing-masing pedagang menjual beras dengan harga bervariasi karena disesuaikan dengan harga kulakan serta kualitas beras yang diperoleh.

Ia mencontohkan beras jenis wangi di tempatnya dijual hingga Rp10.500/kg, sedangkan di tempat lain bisa kurang dari harga tersebut karena harga kulakan dan kualitas berasnya dimungkinkan berbeda.

“Konsumennya, terutama pedagang eceran sudah mengetahui kualitas beras yang dijual apakah sesuai harga yang ditawarkan atau tidak,” ujarnya.

Nur Akhlis, pedagang beras lainnya memastikan fluktuasi harga jual dipastikan akan kembali terjadi, menyusul musim kemarau panjang seperti sekarang dan petani juga baru mulai mengawali tanam saat ini meskipun belum menyeluruh.

Meskipun demikian, dia mengaku, bersyukur masih bisa mendapatkan pasokan beras dengan lancar.

“Pedagang lebih senang ketika harga jual stabil, karena pedagang juga tidak menanggung rugi ketika ada penurunan harga yang terlalu signifikan. Sedangkan konsumen juga bisa membeli dalam jumlah banyak karena harganya terjangkau,” tutupnya