Nissan Ingin Mitsubishi Produksi Selain Livina di Indonesia

REKANBOLA – Distributor mobil penumpang Mitsubishi di dalam negeri, Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), bicara kemungkinan prinsipalnya memproduksi mobil listrik di Tanah Air atas kerja sama dengan Nissan. Seperti diketahui Nissan merupakan pemilik 34 persen saham Mitsubishi, kedua produsen Jepang ini juga dipahami beraliansi dengan produsen Prancis, Renault.

Keinginan Nissan memproduksi mobil listrik di dalam negeri sudah terendus sejak direksi Nissan Motor Indonesia (NMI), pemegang merek dan produsen di Tanah Air, mendatangi kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada Selasa (6/8).

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) Kemenperin Harjanto menyampaikan NMI ingin memanfaatkan fasilitas pabrik Mitsubishi untuk memproduksi mobil listrik murni Leaf dan hybrid Note e-Power.

Pabrik mobil penumpang Mitsubishi yang berada di Bekasi dikelola oleh saudara MMKSI, yakni Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI). Pabrik ini sekarang memproduksi Xpander, Pajero Sport, dan generasi kedua Nissan Livina.

Direktur Penjualan dan Pemasaran MMKSI Irwan Kuncoro, mengatakan, pihak Mitsubishi Indonesia belum mengambil keputusan terkait keinginan Nissan memproduksi mobil listrik di pabrik mereka. Menurut dia memproduksi mobil listrik murni merupakan rencana jangka panjang Mitsubishi di dalam negeri.

“Karena kalau bicara mobil listrik untuk produksi itu masih satu step lagi,” kata Irwan di Tangerang belum lama ini.

Buat tahap awal, sebut Irwan, Mitsubishi Indonesia bakal mengikuti arahan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan, yaitu mengimpor mobil listrik dulu sebelum dipikirkan diproduksi lokal.

Pada Pasal 12 peraturan itu menyebutkan produsen boleh menjual mobil listrik Completely Built Up (CBU) dalam waktu tertentu. Namun mereka harus terlebih dahulu berkomitmen bakal berinvestasi pabrik mobil listrik di Indonesia.

Baca Juga:   Pengamat: Rp 2.000/km adalah Tarif Ideal Ojol

“Karena pemerintah step pertama untuk mengakomodasi CBU impor, setelah beberapa waktu baru didorong untuk lokalisasi. Jadi satu-satu lah,” kata Irwan.

Irwan mengatakan belum dapat bicara banyak tentang rencana kerja sama prinsipal Mitsubishi dan Nissan. Dia bilang jika sudah sepakat antara kedua belah pihak pasti hal tersebut diumumkan.

Menurut Irwan lagi mobil listrik jenis hibrida Mitsubishi lebih tepat dikembangkan di Indonesia daripada model berpenggerak murni listrik.

“Kalau ini pendapat pribadi saya, Mitsubishi untuk mengembangkan hybrid harusnya bisa. Pendapat saya. Cuma saat ini belom ada rencana apa-apa ke arah situ,” ungkap dia.