Pahitnya Hidup Jangan Diratapi Sebab Dunia Masih Terus Berputar

REKANBOLA – Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

Namaku Cindy Afriana, aku adalah putri sulung dari tiga bersaudara. Aku memiliki dua orang adik yang masih kecil. Adikku yang pertama masih menginjak kelas 2 SMA, namanya Aini. Sedangkan adikku yang bungsu, masih menginjak kelas 2 SD, namanya Syfha.

Kini umurku sudah mencapai 20 tahun, dan aku saat ini sedang menjalankan kuliah semester lima di salah satu sekolah tinggi swasta di daerah Tanjung Pura. Sejak kedua orangtuaku bercerai, kini aku dan adikku hanya tinggal bersama ayah.

Ibu dan ayah sudah bercerai sejak empat tahun yang lalu. Saat itu aku masih menginjak kelas 2 SMA, di mana pada waktu itu aku belum mengerti apa arti sebuah perceraian. Aku sampai tidak paham apa sebenarnya penyebab kedua orangtuaku bercerai. Tetapi saat ibu memutuskan untuk bercerai dengan ayah, kami semua tinggal bersama ayah.

Aku dan adikku sudah belajar menjadi anak yang mandiri sejak ayah dan ibu bercerai. Aku sebagai putri sulung sekaligus sebagai kakak, menggantikan posisi ibu di rumah. Artinya, sejak ibu bercerai dengan ayah, aku yang harus mengurusi pekerjaan rumah serta mengurusi kedua adikku.

Adikku yang bungsu sejak kecil ia sudah ditinggalkan oleh ibu, dan sejak saat itu pula aku yang mengurusinya. Ia tidak mau ikut dengan ibu, karena saat itu ia masih terlalu kecil, sehingga ia belum mengerti tentang keadaan yang terjadi sebenarnya. Saat ini aku yang harus mengurusi pekerjaan rumah, mulai dari memandikan adikku yang bungsu, memasak, menyapu, mengepel, mencuci, menggosok, dan melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga.

Baca Juga:   Ingin Sukses Wawancara Kerja? Hindari 4 Kesalahan Ini...

Selain kuliah, aku juga mengajar sebagai guru PAUD honorer di daerah rumahku. Hanya dengan gaji Rp100 ribu, aku rasa itu dapat membantu ayah untuk membayar uang kuliahku. Aku juga sambil berjualan gorengan di kampus untuk mendapatkan sedikit uang tambahan agar aku bisa mengurangi sedikit beban yang dipikul oleh ayah.

Selain menjadi guru honorer dan berjualan di kampus, malamnya aku juga mengajar anak les. Paginya aku mengajar, siang aku kuliah sambil berjualan, dan malamnya aku mengajar les untuk anak SD. Kegiatan itu rutin aku lakukan demi mendapatkan uang tambahan untuk kebutuhan kami. Ibu juga tidak pernah lupa untuk menghubungi serta memberi sedikit uang jajan, tetapi aku tidak mau merepotkannya, oleh sebab itu aku harus berusaha untuk berkuliah sambil bekerja agar dapat mengurangi beban kedua orang tua.

Aku tidak pernah malu menjadi anak broken home. Mungkin semua orang dapat mengira bahwa anak broken home itu adalah anak yang nakal. Dan semua orang pasti mengira bahwa anak broken home itu hidupnya tidak menentu, seperti di luar sana ada sebahagian anak broken home ; mereka hidup di jalanan, mabuk-mabukkan, narkoba, seks bebas, bahkan bisa melakukan pergaulan bebas. Tetapi aku tidak seperti itu, aku akan membuktikan pada semua orang, bahwa ungkapan mereka tentang anak broken home itu salah.

Semuanya tergantung diri mereka masing-masing. Begitu juga dengan aku, meski saat ini aku ditakdirkan sebagai anak broken home, tetapi aku harus berusaha menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa menjadi sukses. Meski kenyataannya orangtuaku tidak mungkin bisa bersatu, tetapi itu tidak akan aku jadikan sebagai hambatan untuk menuju masa depan.

Baca Juga:   5 Negara pencetak orang kaya terbanyak di dunia

Aku juga harus berusaha untuk menerima pelajaran serta hikmah dari peristiwa perceraian kedua orangtuaku. Memang begitu sakit, bahkan aku sering merasakan kesedihan saat melihat semua teman-temanku bisa merasakan hidup bahagia dalam suasana keluarga yang utuh. Tetapi aku tidak boleh iri, mungkin Tuhan punya rencana indah untuk diriku.

Aku juga percaya, bahwa Tuhan tidak akan memberi musibah di luar batas kemampuan hambanya. Oleh sebab itu, saat ini aku harus berjuang untuk kebahagiaanku serta kedua adikku. Aku harus menjadi seorang pahlawan yang hebat untuk kedua adikku, aku juga harus sukses agar hidupku dan kedua adikku lebih baik dari hari ini.