Patokan Harga Telur Naik 10%, Ini Respons Peternak Ayam

Rekanbola – Pemerintah berencana menaikkan harga pokok penjualan (HPP) daging ayam dan telur ayam sebesar 10%. Bagaimana respons peternak?

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Singgih Januratmoko mengatakan kenaikan harga tersebut sebagai hal yang positif. Sebab, bila tidak hal itu tentu dirasakan merugikan.

Pasalnya, saat ini nilai tukar dolar terhadap rupiah tengah menguat dan mempengaruhi berbagai hal, termasuk biaya transportasi.

“Ya dolar mahal jadi gimana dong? Kan transport naik, yang tadinya sumbu bisa dua kali isi sekarang nggak bisa. Jadi memang penyelesaiannya dinaikkan. Masa transport naik harga daging ayam sama telur nggak?” Kata dia kepada, Jumat (3/8/2018).

Ia pun menjelaskan saat ini harga daging dan telur ayam telah stabil di tingkat peternak. Sehingga bila di pasaran harga tersebut masih tinggi ia meminta agar menanyakan hal tersebut kepada Kementerian Perdagangan.

“Daging sama telur ayam di kandang itu sudah Rp 17.000, Rp 18.000 jadi lalau di pasar harusnya sesuai ya Rp 32.000 (untuk daging) dan Rp 22.000 (untuk telur ayam). Kalau masih tinggi coba tanya perdagangan dong,” ungkap dia.

Namun ia memastikan harga di pasaran akan ikut turun dalam waktu satu pekan lagi. Sebab ia menilai perlu ada waktu untuk beradaptasi pada penurunan harga.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Ketut Diarmita mengatakan pihaknya dengan Kementerian Perdagangan telah memutuskan menaikkan HPP sebesar 10% untuk merespons kenaikan dolar.

“Hasil rapat dengan kemendag itu kan dari HPP untuk daging ayam Rp 32.000 dan telur Rp 22.000 itu diberikan naik 10%. Itu kesepakatan, artinya Pak Menteri mengakui ada pengaruh dolar sehingga dikasih space, tapi jangan main-main,” ungkap dia.

Baca Juga:   Blusukan ke Priok, Menhub Ingin Kegiatan di Pelabuhan Tak Ada Libur

 

( Sumber : detik.com )