Pelecehan Seksual dan Perbudakan Rawan Terjadi di Kebun Sawit di Kaltim

REKANBOLA – DPRD Kaltim menduga belakangan marak terjadi pelecehan seksual, dan perbudakan pekerja di dalam area perkebunan kelapa sawit. Dugaan itu, tengah ditelusuri, untuk dipastikan kebenarannya.

“Saya katakan, saya dapat laporan teman-teman buruh. Di kebun sawit itu, sangat rentan praktik pelecehan seksual dan praktik perbudakan,” kata Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Rusman Yaqub, ditemui REKANBOLA, Minggu (10/3).

Sebab, umumnya pekerja kebun sawit, memang bukan warga Kalimantan Timur. “Rata-rata, misal anda saya bawa kerja. Kan di sini, rata-rata (pekerja sawit bukan penduduk Kalimantan Timur. Dia tidak bisa berkomunikasi langsung ke perusahaan, tapi lewat mandor dulu. Melewati 3 lapisan, baru bisa (sampai ke atasan),” ujar Rusman.

“Dan mereka, rata-rata di tengah hutan begitu, tidak ada fasilitas kesehatan terdekat, fasilitas umum. Sementara perusahaan tidak mau menyediakan. Coba bayangkan? Jadi itu sangat rentan,” tambah Rusman.

Rusman menyebut, soal itu jadi kajian dan bahasan serius di Komisi IV DPRD Kaltim. “Kaltim, apapun alasannya, harus kira akui. Suka tidak suka, bahwa Kaltim adalah provinsi sasaran industri. Dampak sosial industri itu pasti ada,” ungkapnya.

“Sampai hari ini kami dapat laporan bahwa, banyak karyawan dan buruh sawit, itu tidak dapat pelayanan BPJS. Padahal gajinya dipotong untuk itu. Ini sedang kami telusuri. Itu perusahaan mana, sedang kami telusuri,” tegas Rusman.

Masih menurut Rusman, apabila tidak dibenahi, ke depan bakal menjadi persoalan sosial lebih serius “Kalau Kaltim tidak berbenah, Kaltim jadi tumpukan dampak sosial efek industri itu,” demikian Rusman.

Baca Juga:   Disiksa dan Dipaksa Mengaku Pemerkosa Bidan di Ogan Ilir, Buruh Lapor Polisi