Pembunuhan sadis dilakukan diduga demi memancing polisi

Rekanbola – Pembunuhan sadis terjadi di Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Parigi Moutong. Jenazah ditemukan dengan kondisi sudah dimutilasi. Kepala korban terpisah jauh dari tubuhnya. Potongan kepala korban berinisial A ditemukan oleh warga pada sekitar pukul 11.00 WITA oleh dua orang di desa Sabulanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong.

Polisi mendapatkan laporan tersebut langsung melakukan penyelidikan tentang kasus pembunuhan sadis tersebut. Dari hasil penyelidikan diketahui korban adalah pekerja tambang emas tradisional di sesa tersebut.

Anggota Polres Parigi Moutong yang melakukan penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP) pun tidak luput dari serangan. Mereka didera dengan tembakan beruntun yang mengakibatkan dua orang anggota polisi yaitu Bripda Baso dan Bripka Andrew menjadi korban dari tembakan sporadis tersebut.

“Benar ada kejadian anggota kami dihadang dan ditembak saat mengevakuasi korban mutilasi,” kata Wakapolda Sulteng Kombes Setyo Boedi Moempoeni Harso

Kronologi awal penembakan kepada anggota polisi bermula saat Bripda Baso melihat ranting pohon yang disusun berjajar di tengah jalan sekaligus adanya ranting besar yang melintang di tengah jalan. Bripda Baso dan Bripka Andrew lalu berusaha membersihkan batang dan ranting pohon tersebut agar bisa dilewati.

Tak lama sesaat Bripka Andrew dan Bripda Baso turun dari kendaraannya, rombongan angota polisi tersebut langsung mendapatkan tembakan dari arah gunung. Rombogan polisi lain yang berada dibelakang Bripka Andrew dan Bripda Baso langsung membalas dengan menembaki ke arah oknum penembakan.

“Tim yang berada di belakang (Bripka Andrew dan Bripda Baso) saat itu langsung memberikan tembakan balasan ke arah punggung gunung dan lereng gunung guna mengamankan TKP kontak tembak. Agar tim bisa mengevakuasi rekan yang terkena tembak,” ujar Dedi.

Kontak tembak itu berlangsung sekitar 30 menit. Setelah itu, kedua polisi yang jadi korban langsung diselamatkan dan dibawa ke puskesmas. Sementara pelaku penembakan yang diduga kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) eks anggota santoso itu masih diburu.

“Pelakunya adalah kelompok DPO MIT Poso yang dipimpin Ali Kalora cs,” ucap Dedi.

Dilansir dari tempo.co, Mujahidin Indonesia Timur diperkirakan terbentuk pada akhir 2012 atau awal 2013, kelompok tersebut didirikan oleh Santoso atau Abu Wardah di daerah rawan konflik, Poso, Sulawesi Tengah.

Baca Juga:   7 Pasangan ini berfoto ulangi pose yang sama usai puluhan tahun

MIT waktu itu langsung merekrut pengikutnya, dan melakukan pelatihan militer. Sejumlah aksi teror dan serangan terhadap aparat kepolisian pun diduga didalangi oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur ini.

Hingga saat ini Kepolisian RI masih melakukan perburuan terhadap sejumlah anggota MIT. Saat ini kelompok tersebut dipimpin oleh Ali Kalora.

Data terakhir kepolisian tercatat sejumlah anggota Mujahidin Indonesia Timur masuk dalam Daftar Pencarian Orang, yaitu Ali Muhammad alias Ali Kalora alias Ali Ambon, Muhammad Faisal alias Namnung alias Kobar, Qatar alias Farel, Nae alias Galuh, Basir alias Romzi, Abu Alim, dan Kholid.