Pencipta ‘Kue Tanpa Rasa Bersalah’ Jadi Chef Pastry Terbaik

REKANBOLA –  Makanan pencuci mulut racikan chef Jessica Prealpato tak seperti kebanyakan. Rasa dessert buatannya sering kali tak manis bahkan tak terlihat menarik. Tapi, ini tak menghentikannya meraih gelar chef pastry terbaik di dunia dari World’s 50 Best Restaurants yang baru saja diberikan

Juru masak berusia 32 tahun asal Prancis ini merupakan pencipta makanan penutup yang sehat atau guilt-free dessert, jenis kue ini memang yang tengah naik daun. Guilt-free dapat diartikan sebagai jenis makanan sehat yang bebas gula, bebas gluten, vegan, dan juga tinggi protein.

Bagi Prealpato, dessert bukan soal bentuknya yang menarik, melainkan rasa makanan dan juga perasaan yang timbul setelah menyantapnya.

Prealpato lantas menciptakan kreasi yang sublim di restoran berbintang tiga Michelin di Hotel Plaza Atheene, Paris. Di restoran yang dikepalai koki andal Alain Ducasse itu, dia membuat makanan pencuci mulut ‘tanpa rasa bersalah’.

Kreasi Prealpato banyak menggunakan campuran bahan yang unik dan tak biasa. Tentu saja, tanpa kandungan gula yang tinggi.

Saking tak biasanya, dia bahkan tak berani meminta ayahnya, yang juga merupakan seorang patissier yang kental dengan budaya ‘manis’ Prancis, untuk mencicipi kreasi makanannya berupa stroberi dengan pucuk pinus, lemon, dan rumput laut. Tak satu pun anggota keluarganya mencicipi kreasi terbarunya kali ini.

“Dia tidak akan mengerti apa yang saya lakukan sama sekali,” kata Prealpato kepada AFP.

Tanpa menggunakan gula tambahan, Prealpato mencoba mengolah bahan untuk mengeluarkan rasa alami yang dimiliki bahan tersebut.

“Kami mencoba membuat orang terguncang (dengan rasa makanan),” ucap Prealpato sambil tertawa.

Keberhasilan Prealpato tak diraihnya dengan cuma-cuma. Empat tahun lalu, dia bahkan pernah menangis karena Ducassse menolak untuk mencicipi makanan penutup berbahan dasar buah yang dibuatnya.

Baca Juga:   Tempe 'Setipis Kartu ATM' Bisa Diolah Jadi Makanan Nikmat

“Ketika itu saya menyajikannya seperti koki patisserie biasanya, dengan banyak mousse, krim, dan tuile. Baginya (Ducasse) makanan penutup tidak harus tentang hal-hal itu,” ungkap Prealpato.

Sejak saat itu, Prealpato keluar dari zona nyaman. Dia bahkan jarang menggunakan bahan populer seperti kopi dan cokelat. Kebanyakan dessertnya banyak bermain dengan rasa asam.

Dalam membuat menu makanan baru, Prealpato mengaku kerap mencoba berbagai cara mulai dari dipanggang, mentah, difermentasi, dan direbus. Ini terlihat dalam buku miliknya yang berisi 50 makanan penutup berjudul Desséralité.

“Saya suka menggunakan cuka dan mencoba setiap gaya memasak sehingga saya mendapatkan cita rasa terbaik dari suatu produk,” ujar Prealpato.

Rata-rata dibutuhkan waktu satu bulan untuk Prealpato menciptakan resep dessert baru. Menu itu juga berubah seiring musim yang berganti.

Prealpato mengaku tak menyangka dia dinobatkan sebagai chef pastry terbaik di dunia lantaran kerap menerima kritikan mengenai rasa makanan penutupnya yang sering terbilang ‘aneh’ atau berbeda.

“Saya terkejut. Ini luar biasa bagi saya. Saya tidak akan pernah menduga bahwa patisseries saya akan sejauh itu,” kata koki perempuan pertama yang dinobatkan menjadi chef pastry terbaik dunia ini.