Pengusaha Berbondong-Bondong Tukar Dollar AS, Apa Dampaknya?

Rekanbola – Banyak pengusaha yang berbondong-bonding menukarkan deposito valuta asing yang mereka miliki ke rupiah. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk membantu stabilitas rupiah. Adapun posisi rupiah terhadap dollar AS berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Senin, (16/10/2018) Rp 15.246 per dollar AS, kembali melemah dari Jumat (12/10/2018).

Yang terakhir, Pimpinan Mayapada Group Dato’ Sri Tahir baru saja menukarkan deposito valuta asing (valas) berupa dollar AS dan dollar Singapura dengan jumlah yang cukup fantastis, yaitu Rp 2 triliun. Sebelumnya, Forum Komunikasi Asosiasi (Forkas) Pengusaha Jatim pun menukarkan 50 juta dollar AS atau setara dengan Rp 760,7 miliar (asumsi kurs Rp 15.200).

Lalu, seberapa efisienkah upaya pengusaha untuk menukarkan tabungan valas yang mereka miliki menjadi rupiah? Direktur Riset Centrer of Economic Reform (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, dampak penukaran valas terhadap rupiah oleh para pengusaha ini tidak akan signifikan terhadap permintaan dan pasokan valas di pasar uang. Sebab, walau jumlahnya tergolong fantastis, namun nilai transaksi tersebut cukup kecil jika dibandingkan dengan nilai transaksi di pasar.

“Terutama lagi penjualan dollar tersebut dilakukan hanya satu waktu dan tidak berkesinambungan. Oleh karena itu dampaknya kepada supply dan demand pasar tidak akan signifikan,” ujar Piter ketika dihubungi Kompas.com.

Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) pun mengungkapkan hal yang kurang lebih sama. Dia menjelaskan, untuk penukaran valas yang dilakukan oleh Tahir sebesar Rp 2 triliun, atau sebesar 131,5 juta juta dollar AS setara dengan 0,18 persen dari total Dana Hasil Ekpsor (DHE) yang masih berbentuk dollar AS.

Baca Juga:   Rayakan HUT Jakarta, Anies-Sandi Mimpikan Pusat Ekonomi Dunia

Dia menjelaskan, Rp 2 triliun nilainya setara dengan 131,5 juta dollar AS (asumsi kurs 15.200). Adapun total DHE yang masih berupa dollar AS per Juni 2018 lalu senilai 69,88 miliar dollar AS.

“Jadi efeknya ada cuma tidak signifikan membantu peningkatan kurs rupiah,” ujar Bhima.

Piter menjelaskan, sebenarnya apa yang diharapkan dari aksi pada pengusaha ini lebih kepada membangun persepsi positif di pasar. Persepsi positif ini akan menunjukkan para pengusaha masih memiliki kepercayaan yang besar terhadap rupiah.

“Ini diharapkan akan membangun market confidence yang lebih besar ke depan,” jelas Piter.