Perbatasan Ethiopia dan Eritrea Kembali Dibuka untuk Turis

REKANBOLA — Perbatasan antara Ethiopia dan Eritrea akhirnya kembali dibuka setelah 20 tahun memisahkan sanak saudara dan tali persahabatan antar kedua negara.

Mengutip Lonely Planet pada Senin (17/9), perang konflik antara Ethiopia dan Eritrea yang dimulai pada tahun 1998 ini berakhir pada 2000.

Namun keduanya belum juga menyetujui perjanjian damai dan jalur perbatasan tetap ditutup hingga kini akhirnya kembali dibuka.

Upacara pembukaan kembali perbatasan dilangsungkan pada Selasa (11/9), di mana keduanya membukakan pintu untuk lintasan darat dari kedua negara.

Perlintasan itu terjadi antara Bure, Ethiophia dan Debar Sima, Eritrea di bagian timur dan antara Zalambessa dan Serha di bagian barat.

Kesepakatan damai diatur untuk mengkalibrasi ulang perjanjian perdagangan dan geopolitik di kawasan strategis yang bertengger di sepanjang Laut Merah, salah satu rute pelayaran tersibuk dunia dari Asia ke Eropa.

Namun disamping itu langkah ini juga merupakan langkah positif bagi pelancong di wilayah Afrika.

Matt Phillips, pakar Afrika dari Lonely Planet mengatakan “Pembukaan perbatasan ini tentunya sangat menguntungkan wisatawan. Hal ini akan memudahkan akses ke Eritrea dengan rangkaian wisata sejarah menarik di Ethiopia.”

Asmara yang merupakan ibu kota Eritra dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun lalu, berkat bangunan arsitektur modern yang dulunya digunakan sebagai pos militer selama pendudukan kolonial Italia.

Tapi hingga kini akses wisata di jalur perbatasan Ethiopia dan Eritra masih terbilang sulit.

Tak jarang wisatawan yang mengajukan visa langsung dari Ethiopia ke Eritrea ditolak begitu saja.

“Satu-satunya masalah yang masih menjadi kendala adalah kesulitan dalam memperoleh visa turis ke Eritrea. Sampai kendala ini diluruskan, perbatasan kedua negara tidak akan ramai turis,” ujar Matt.

Baca Juga:   Bunga Citra Lestari Pakai Jeans Robek Saat Jalan-Jalan di AS

Namun regulasi ini tampaknya secara perlahan akan dilonggarkan oleh pemerintah, sehingga turis akan lebih mudah mendapati akses dari kedua negara tersebut.