Perjuangan Surya Sahetapy Terjemahkan Alquran dalam Bahasa Isyarat

REKANBOLA – Di bulan Ramadan, kebiasaan membaca Alquran akan meningkat. Namun, membaca ayat Alquran tidak bisa sembarangan agar tak melenceng maknanya. Sehingga butuh belajar dan latihan agar seseorang bisa lancar dalam membacanya, begitu pula dalam mendalami maknanya.

Beberapa memilih dengan mendengarkan rekaman audio. Tapi, bagi Surya Sahetapy dan beberapa temannya, ada tantangan tak biasa yang mereka hadapi dalam mempelajari kitab suci ini, mereka tunarungu.

“Teman-teman tunarungu saya dan saya merasa depresi karena kami tidak punya cara untuk membantu orang tunarungu untuk mengakses Islam,” ujar pria 25 tahun ini, seperti dikutip laman New York Times.

Tapi, semua itu berubah tahun lalu saat Surya bergabung dengan organisasi Islam dalam sebuah proyek yang memproduksi video bahasa isyarat yang menerjemahkan 114 surat dalam Alquran. Mereka sudah merilis video pertama di YouTube sebelum dimulai Ramadan tahun lalu.

Pekerjaan tersebut berjalan perlahan. Memasuki Ramadan tahun ini, Quran Indonesia Project baru memproduksi empat video surat dan satu azan. Meski banyak Muslim tunarungu di Indonesia bisa membaca dan menghapal beberapa ayat, tapi mereka punya sedikit akses kepada para guru agama yang bisa berkomunikasi dengan mereka.

Untuk membantu kaum Muslim yang tunarungu tidak hanya mengingat ayat, tapi juga memahami maknanya, kelompok itu juga berencana merilis permainan edukatif mengenai dasar-dasar Islam begitu juga DVD 10 bahasa isyarat yang menjelaskan tentang salat.

“Ini mengubah segalanya. Video ini juga memiliki pesan: Jika kalian ingin tunarungu Indonesia belajar Islam, mereka harus belajar bahasa isyarat. Islam tidak terbatas pada apa yang kalian baca, tapi lebih dari apa yang kalian pahami,” ujar Surya.

Baca Juga:   Ditinggal Kabur Istri, Ayah Lumpuh Dirawat Bocah 6 Tahun

Ide bahasa isyarat Quran dimulai pada tahun 2017 saat Surya bertemu dengan Archie Fitrah Wirija, pendiri dan produser eksekutif Quran Indonesia Project. Organisasi nonprofit ini sudah mulai mengajak anak muda tertarik pada Quran dengan memproduksi rekaman kitab suci dalam bahasa Arab, Indonesia, dan Inggris yang disuarakan oleh penyanyi dan aktris.

Proyek bahasa isyarat menggandeng Galuh Sukmara Soejanto, seorang guru tunarungu dan aktivis hak penyandang disabilitas. Dia mengajarkan Surya titik paling detail dalam menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa isyarat, dan perkembangannya diawasi oleh organisasi untuk tunarungu yang berbasis di Jeddah, Arab Saudi.

Proyek ini menjadi salah satu dari sedikit sumber bagi para penyandang tunarungu di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ada 2,9 juta penyandang tunarungu pada tahun 2015, meski para aktivis yakin angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Ketulian sudah menurun di keluarga Surya. Kakak perempuannya tuli dan pamannya mengenalkannya pada bahasa isyarat sejak kecil.

“Tapi ketika di kelas untuk belajar Islam, saya mulai menangis karena saya tidak mengerti. Saya dipaksa hidup sebagai seseorang yang mendengar. Bahkan saat ini orangtua tidak ingin anaknya menggunakan isyarat, mereka ingin mereka bicara,” tutur Surya, yang mengingat ia diminta untuk bisa membaca bibir guru sekolah dasarnya.

Namun, semua mulai berubah meski perlahan. Beberapa mesjid kini mulai menyediakan penerjemah bahasa isyarat. Dan, banyak televisi nasional sudah memasukkan terjemahan bahasa isyarat untuk program berita dan religi.

“Ini menunjukkan kami memiliki hak menggunakan bahasa isyarat. Kami ingin mengubah stigma bahwa ‘jika kamu tidak bisa bicara, kamu berbeda’,” ujar Surya.