Pertemuan Sekilas yang Membekas dengan Atlet Difabel Jaenal Aripin

REKANBOLA – Waktu menunjukan pukul 20.30 malam ketika saya sampai di stadion Utama Gelora Bung Karno, pada pertengahan Oktober lalu. Niatnya berburu foto pada gelaran Asian Para Games 2018, namun seluruh pertandingan nomor atletik pada hari itu sudah berakhir.

Sudah kepalang sampai, saya harus dapat foto bagus. Berbekal tekad tersebut, saya melawan arus pengunjung yang hendak pulang, menelusuri stadion utama Gelora Bung Karno, berharap mendapat obyek foto menarik ataupun hanya sekadar bertegur sapa dengan para atlet.

Penelusuran saya berbuah manis. Beberapa kerumunan orang yang tampak berfoto dengan para atlet yang keluar dari stadion juga.

Kebanyakan merupakan para-atlet T54, yaitu atlet nomor lintasan yang menggunakan kursi roda. Ada atlet Thailand, Arab Saudi, dan Jepang yang tampak senang berfoto dengan pengunjung yang hendak pulang, meskipun terdapat keterbatasan bahasa.

Setelah mengamati beberapa kerumunan orang, tampak seorang atlet dengan lambang garuda di dadanya. Tanpa pikir panjang, saya langsung menghampiri atlet tersebut. Oh, Jaenal Aripin.

Saya menghampiri Jaenal dengan maksud meminta izin untuk berfoto. Agak susah mengambil momen Zainal dan kursi rodanya. Pada saat yang sama, ia tengah asyik memangku anaknya. Atas seizin keluarga dan Jaenal, saya mengambil foto mereka berdua.

“Sabar ya Nak bentar lagi Ayah pulang. Nurut ya sama Aki,” tutur Jaenal, sembari bercanda mesra dengan sang putra dipangkuannya

Ekspresi wajah, mata yang berbinar, mengisyaratkan bahwa pertemuan tersebut sungguh sangat ia nanti. Tersirat pula ada kepuasan yang mendalam untuk akhirnya kembali bertemu keluarga. Terhitung hanya 20 menit Jaenal bertemu keluarga sebelum kembali menyusul atlet lainnya ke bus. Tangis haru pada perpisahan pun tak terelakan.

Baca Juga:   Bukan pemeran utama, karakter di 10 film ini justru diingat penonton

Mengenal Jaenal

Meski begitu, keluarga pun paham ini resiko Jaenal sebagai atlet. Atlet yang mengharumkan nama Indonesia sebagai peraih medali silver T54 200m para-atletik cabor balap kursi roda. Tangis berbuah manis, lara berbuah tawa

Di balik riuh sorak sorai penonton mengagungkan namanya, bonus yang bergelimang, atau bahkan kepenatan dari intimidasi pihak lawan yang mungkin jauh lebih baik darinya, masalah cekcok dengan pelatih dan atlet lain, atau apapun itu.

Sekilas mengenal Jaenal Aripin, merupakan atlet Pelatnas Asian Para Games 2018 yang memperkuat tim Indonesia pada nomor balap kursi roda 100, 200, dan 400 meter. Pria kelahiran Sumedang, 30 tahun lalu ini merupakan salah satu atlet difabel andalan bagi Indonesia. Ia juga merupakan anggota National Paralympic Committee (NPC), sebuah organisasi yang khusus mewadahi atlet difabel.

Jaenal mendapat musibah kecelakaan sepeda motor pada 2006 di Bandung. Tak hanya mendapat luka, kecelakaan itu juga membuat kedua kakinya harus diamputasi.

Perlahan namun pasti, ia pun mengikhlaskan kondisinya. Berawal dari ajakan teman, Jaenal menyalurkan bakatnya di olahraga dengan balap kursi roda sampai sekarang menjadi salah satu atlet difabel andalan Indonesia untuk cabang olahraga atletik. Sebuah tamparan bagi saya yang masih memiliki anggota tubuh lengkap namun masih suka mengeluh, bahkan untuk hal sepele.

“Mungkin kalau saya normal, saya belum tentu bisa dapat 10 juta dari kerja,” kata Jaenal.

Selamat Jaenal, terus berusaha, berprestasi, dan menginspirasi.