Pertimbangan Smartfren Sebelum Adopsi 5G

REKANBOLA – Operator seluler Smartfren menggelar jaringan 4G di lebih dari 200 kota di seluruh daerah operasionalnya di Indonesia. Jaringan 4G Plus ikut digeber di kota-kota besar utama dan menjanjikan kecepatan downlink hingga 198 Mbps dalam kondisi ideal.

Vice President Technology Relations and Special Project Smartfren, Munir Syahda Prabowo mengatakan, teknologi jaringan 4G Plus sebenarnya sama dengan 4G, namun fitur-fiturnya lebih lengkap.

Kelengkapan fitur seperti Carrier Agregation, small cell, MIMO, QAM, beam forming, dan full duplex ini sengaja disiapkan untuk menyambut kedatangan jaringan seluler generasi ke-5 alias 5G.

Meski demikian, Munir mengatakan hal itu tidak serta merta berarti teknologi 5G akan langsung diadopsi oleh Smartfren, karena masih banyak faktor penentu yang kesiapannya masih belum jelas.

Misalnya saja, terkait backend jaringan yang mesti mampu menyokong kecepatan transfer data sangat besar, agar bisa memberikan lompatan berarti ke 5G.

“Contohnya, kecepatan 198 Mbps dari 4G Plus Smartfren tadi hanya sepersepuluh tuntutan kecepatan 5G yang berada di kisaran 1 Gbps hingga 10 Gbps atau lebih,” ujar Munir di sela rangkaian acara 4G Plus Network Experience Smartfren di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (27/10/2018).

Menurut Munir, berbeda dari negara-negara maju yang sudah lebih siap untuk menggelar 4G, ketersediaan backend untuk mendukung internet berkecepatan tinggi di Indonesia saat ini masih sangat kurang.

Dia memperkirakan masih butuh waktu beberapa tahun sebelum 5G bisa realistis diterapkan di Tanah Air.

“Prediksi saya, Indonesia baru akan mulai mengadopsi 5G pada 2020. Itu pun belum secara meluas karena ketersediaannya mesti didukung infrastruktur memadai. Backend mau tak mau harus mengikuti,” kata Munir.

Baca Juga:   Smartfren Siap Hadirkan Bundling iPhone XS, XS Max dan XR

Di luar backend, Munir mengatakan perangkat infrasuktur Smartfren sudah lebih siap untuk mendukung 5G karena fitur-fitur yang diperlukan sebagian sudah ada di jaringan 4G Plus besutan sang operator.

Namun masih perlu dilihat kembali apakah kebutuhan jaringan 5G nantinya akan bisa disokong oleh peralatan yang sudah ada.

Dia mencontohkan penggunaan band frekuensi 5G di Indonesia yang masih belum jelas ketentuannya. Apabila nanti masih mirip dengan jaringan 4G Plus, maka Smartfren -misalnya- mungkin tak perlu mengganti radio pemancar di BTS. “Tapi kalau perbedaannya terlalu jauh, adjustment tetap perlu,” imbuh Munir.