Petani di Kelurahan Sri Padang Kecewa, 45.000 Bibit Lele Bantuan Pemko Tebing Tinggi Bermatian

Rekanbola – Anggota Kelompok Tani Maju Bersama di Jalan Lama, Kelurahan Sri Padang, Kecamatan Rambutan, Kota Tebing Tinggi mengeluh. Pasalnya semua bibit lele jumbo yang mereka terima dari bantuan Pemko Tebing Tinggi bermatian. Padahal, untuk mendapatkan bantuan tersebut, kelompok beranggotakan 30 orang harus menunggu hampir setahun agar proposal mereka disetujui.

Seperti dituturkan Sari Poltak Hamonangan Manalu (27), salah seorang anggota Kelompok Tani Maju Bersama kepada Rekanbola.com, setelah menerima bantuan keramba sekitar empat bulan silam, baru dua pekan lalu mereka menerima bibit ikan lele jumbo yang diminta. Namun, hasilnya sangat mengecewakan, karena bibit lele bantuan tersebut tidak ada yang selamat.

“Bibit ini baru sekitar 2 minggu datang dan entah kenapa kok bisa semua bermatian. Hampir tiap hari semenjak bibitnya datang, saya terpaksa mengutip lele yang mati. Sampai saat ini dari 5000 bibit yang saya terima sudah mati semuanya,” kesalnya saat ditemui metro24jam.com, di lokasi kerambanya, Minggu (02/12/2018).

Pria yang akrab dipanggil Monang ini benar-benar merasa kecewa sekali atas bantuan tersebut. Dia mengatakan, Pemko Tebing Tinggi terkesan asal-asalan dalam memberikan bibit tersebut.

“Kalau dilihat dari segi pelet yang diberikan sebenarnya ukuran bibitnya sudah minimal 5/8 tapi kenyataannya tidak seperti itu. Yang kami terima ukuran ikannya masih kecil-kecil tidak cocok dengan pelet yang diberikan,” beber Monang.

Hal senada juga diungkapkan Boru Manurung, yang juga anggota Kelompok Tani Maju Bersama. Sekira 2000 bibit lele yang diterimanya juga seluruhnya sudah mati.

Menurut Boru Manurung, bibit itu diterima mereka malam hari. Tapi, ketika dimasukkan ke kolam, keesokan harinya sudah banyak yang mati.

Baca Juga:   Trump: Saya Punya Hak Mutlak Ampuni Diri Saya dari Kejahatan

“Kami heran, kenapa bibitnya dimasukkan malam hari. Jadi kami tak bisa melihat kondisi bibitnya. Kalau menurut kami, bibit yang diberikan memang tidak bagus. Soalnya, kalau dibilang karena cara perawatan, kenapa semua anggota kelompok ini keluhannya sama, semua bibit yang diterima mati,” tambah Boru Manurung.

Alhasil, semua anggota Kelompok Tani Maju Bersama menyesalkan bantuan bibit yang mereka terima tersebut.

Akibatnya, para petani lele juga mengalami kerugian materi dengan kematian bibit yang mereka terima.

“Contohnya, kami harus mengeluarkan biaya pembelian pelet yang lebih cocok dengan ukuran bibit yang ada. Selain itu, kami juga harus memompa air untuk mengisi keramba tersebut, semuanya kan butuh biaya,” ketusnya.

Selain itu, akibat bibit lele yang mati tersebut, bau busuk pun menyeruak di sekitar kolam mereka, sehingga para petani terpaksa menanam semua bibit lele yang mati. Karena menurut dia, ayam dan bebek pun tidak mau lagi memakan bangkai ikan itu.

“Kami sudah melaporkan hal ini kepada ketua kelompok Gunawan Sihombing. Menurutnya, kejadian ini sudah disampaikan kepada pihak pemerintah yang membidangi bantuan ini. Ya, jawabnya nanti akan diganti bibitnya,” imbuh Boru Manurung.

Kekecewaan serupa juga diungkapkan Daniel Sihombing. Lebih kurang 2000 bibit lele yang diterimanya juga mengalami nasib yang sama.

“Kami berharap, jika memang Pemko Tebing Tinggi berniat memberikan bantuan kepada masyarakat, berikanlah yang terbaik. Jangan asal ada bantuannya tapi masyarakat jadi kecewa,” ketus ibu Manurung penuh harap.

Informasi yang diperoleh Rekanbola.com di lokasi, ada 30 anggota Kelompok Tani Maju Bersama yang menerima bantuan bibit ikan. Setiap petani masing-masing mendapat 1500 ekor bibit per anggota. Artinya ada 45 ribu bibit lele jumbo yang diberikan Pemko Tebing Tinggi, dan semuanya mati.

Baca Juga:   Ini Huang Shu Ping, WN China yang Dibunuh di Hotel Gambir