Pilpres 2019 Bukan Lagi Soal Hoax dan SARA tapi Politik Uang

Rekanbola – Guntur Romli, politikus Partai Sosial Indonesia (PSI), menganalisis bahwa tantangan terberat dalam Pemilu Presiden 2019 bukan lagi soal isu SARA dan hoax melainkan praktik politik uang. Isu mahar politik yang terkenal dengan sebutan “jenderal kardus” sebagai hal yang harus disikapi secara serius.

“Persoalannya adalah jika ada kelompok yang syahwat politiknya terlalu naik, terlalu banyak, akhirnya menghalalkan segala cara dengan senjata hoax dan isu SARA,” kata Guntur

“Karena saya menangkap Pilpres 2019 bukan lagi isu soal SARA dan hoax, itu sudah (terjadi pada Pemilu) 2014. Ini persoalan orang punya duit dan orang dengan bukti kerja nyata (Jokowi),” ujarnya.

Dia membenarkan bahwa kini masih banyak isu SARA dan hoax untuk menjatuhkan lawan politik. Namun ia mengklaim warganet sudah mulai bijak dan tidak bisa dibohongi dengan politik hoax.

Yang diserang sekarang menggunakan kekuatan uang, itu yang terjadi saat ini. Akhirnya kita harus kembali merawat demokrasi kita. Kalau memang ingin berkompetisi, secara sehat, jangan gunakan hoax dan SARA. Paling penting jangan gunakan politisasi uang,” katanya.

Ada tiga hal percakapan warganet pendukung pasangan capres-cawapres di media sosial saat memasuki tahun politik saat ini, yaitu kampanye positif, kampanye negatif, dan kampanye hitam.

“Kampanye hitam dilarang, yang boleh adalah kampanye positif dan negatif. Positif maksudnya mengampanyekan secara legal prestasi dan gagasan. Negatif adalah mengkritik lawan sesuai data dan fakta. Karena tidak bisa evaluasi tanpa kritik. Paling penting, ketika kita berhadapan dengan politik uang, ya, harus kita lawan,” katanya.

Baca Juga:   Politik Akal Sehat