PLN gunakan dana penerbitan global bond untuk bangun pembangkit listrik

REKANBOLA – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN mendapat suntikan dana dari penerbitan obligasi global (global bond) senilai USD 1,5 miliar. Uang tersebut sebagian besar akan digunakan untuk investasi pembangunan pembangkit.

Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto mengatakan, PLN menggunakan dana dari global bond untuk membiayai proyek infrastruktur kelistrikan yang dalam proses konstruksi. Besaran dana yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan proyek yang sedang berjalan.

“Proyeknya sesuai dengan perkembangan proyek. Proyek yang sudah masuk konstruksi,” kata Sarwono, di Jakarta, Kamis (25/10).

“Yang jelas proyek yang paling besar itu untuk biaya pembangkit. Pembangkit saya kira ya mungkin 90 persen,” sambungnya.

Menurutnya, pembangunan pembangkit membutuhkan dana besar, selain itu sebagian komponen berasal dari impor. Dengan sumber pendanaan dari global bond, tidak akan mengurangi stok Dolar Amerika Serikat (AS) yang ada di dalam negeri. “Pokoknya kita lihat kebutuhan kita yang paling besar di pembangkit. Pembangkit itu sebagian besar 90 persen itu barangnya barang impor,” tandasnya.

Sebelumnya, PLN kembali menerbitkan global bond senilai kurang lebih USD 1,5 miliar, perolehan dana tersebut akan digunakan untuk membiayai kebutuhan investasi dan program 35 ribu Mega Watt (MW).

Global Bond tersebut diterbitkan sekaligus dalam mata uang USD dan Euro, yaitu USD 500 juta dengan tenor 10 tahun 3 bulan, USD 500 juta dengan tenor 30 tahun 3 bulan, dan €500 juta dengan tenor 7 tahun, serta tingkat bunga masing-masing 5.375 persen, 6.25 persen dan 2.875 persen.

Dalam global bond ini PLN berhasil memperoleh kupon dan beban bunga yang sangat kompetitif, meskipun suku bunga acuan USD atau Fed Fund Rate pada tahun ini telah naik sebanyak 3 kali, sehingga dengan ini mampu mendukung upaya PLN untuk dapat terus menyediakan listrik kepada masyarakat dengan tarif yang terjangkau.

Baca Juga:   Harga Minyak Turun karena Risiko Konflik Suriah Mereda

“Pilihan pendanaan ini cukup tepat, mengingat sebagian besar kebutuhan investasi peralatan pembangkit listrik masih harus diperoleh dari luar negeri,” tandasnya.