Prabowo sebut ekonomi Indonesia kini dalam sistem neoliberalisme

Rekanbola – Bakal calon Presiden Prabowo Subianto menjelaskan ekonomi Indonesia kini tengah berada dalam sistem neoliberalisme. Sistem tersebut dianggap gagal dan tidak membawa perubahan terhadap peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat.

“Pada 2008 saya katakan bahwa sistem neoliberal hanya menguntungkan segelintir orang kaya itu terjadi di Amerika dan Eropa,” kata dia di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada Bandung, di gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Rabu (19/9).

Hal tersebut juga terjadi di Indonesia yang ditandai dengan tingginya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar. Tingginya nilai tukar berdampak pada harga kebutuhan pokok.

“Lima tahun lalu satu dolar Rp 9.000 sekarang Rp 15.000. Lima tahun lalu kita bisa beli barang lebih banyak dari sekarang, ini matematik. Kekayaan kita jadi sepertiga dari lima tahun lalu. Jadi enggak heran harga tahu mahal, telur, ayam mahal,” lanjutnya.

Prabowo meminta agar wisudawan tidak menutup mata atas kondisi yang sedang terjadi saat ini. Ia mengajak agar wisudawan dapat berperan aktif dalam memperbaiki situasi Indonesia.

Selain berorasi perihal ekonomi, Prabowo juga bercerita mengenai pentingnya tugas tenaga medis kepada 500 wisudawan.

“Seorang pekerja di bidang kesehatan, membutuhkan komitmen dan dedikasi dan keberanian yang tidak kalah dengan seorang prajurit tentara. Sebagai mantan prajurit, saya sangat merasakan pentingnya seorang dokter, perawat, dan paramedis,” ujar Prabowo.

Prabowo menjelaskan, pekerjaan di bidang medis merupakan tugas yang mulia dan bukanlah suatu perkara mudah. Mereka bekerja dengan segala risiko yang berbahaya dan memerlukan kecermatan tinggi.

Ia menganalogikan bahwa tenaga medis layaknya tengah berada di medan perang dan sangat dibutuhkan. Para prajurit yang terluka menggantungkan hidupnya kepada tangan paramedis, apabila tidak segera ditangani maka nyawa menjadi taruhannya.

Baca Juga:   BBM Premium Batal Naik, Demokrat Tuding Demi Kepentingan Pemilu

“Karena dalam pertempuran sangat besar kemungkinan orang terluka atau gugur, dan saat terluka atau gugur kalau tidak ada paramedis dalam jangkauan yang dekat berarti, ya, sudah tamat riwayatnya,” kata dia.

Begitu juga di masyarakat, karena salah satu indikator negara maju adalah kecepatan dan ketepatan dalam penanganan kesehatan, di samping ketercukupan pangan dan pendidikan.

“Anda sudah memilih suatu bidang yang membutuhkan kepahlawanan,” kata dia.