Proyek Juventus: 5 Langkah untuk Jadi Raja Eropa

REKANBOLA – Kedatangan Matthijs de Ligt telah menegaskan kembali hasrat Juventus untuk menjadi raja sepak bola. Si Nyonya Tua ingin jadi klub nomor satu di Eropa, dan dengan demikian otomatis jadi klub nomor satu di dunia.

Juve telah mendominasi Italia dalam beberapa tahun terakhir – tepatnya delapan tahun trofi Serie A beruntun. Mereka telah menobatkan diri sebagai salah satu klub terkuat di Eropa.

Biar begitu, Liga Champions masih belum mampu diraih. Juve begitu penasaran meraih trofi paling bergengsi di level klub tersebut. Itulah alasan yang mendorong Juve mendatangkan pemain seperti Cristiano Ronaldo dan Matthijs de Ligt.

Mengutip Sky Italia, langkah-langkah Juventus untuk jadi raja Eropa terdeteksi dalam 5 langkah perkembangan yang sudah dan sedang dilakukan Juventus. Apa saja? baca selengkapnya di bawah ini ya,!

Memulai dari Posisi Terendah

Juventus menghantam jurang pada tahun 2006 tersebab skandal Calciopoli. Juve harus rela merosot ke Serie B dan kehilangan gelar juara Serie A 2005 dan 2006.

Minus 9 poin, Juve berhasil memuncaki divisi kedua dan lansung kembali ke papan atas. Namun, kembali ke Serie A bukan berarti mudah, Juve berjuang keras selama beberapa tahun sampai kedatangan Andrea Agnelli.

Rumah Baru

Salah satu momen kunci dalam perkembangan Juventus terjadi pada September 2011, tepat ketika Juventus Stadium diresmikan. Pada laga itu, Juve berhasil mengalahkan Parma 4-1.

Stadion ini jelas mencuri perhatian penikmat sepak bola Italia. Juventus Stadium mempertimbangkan kedekatan penonton dengan lapangan, meniru stadion-stadion di Inggris.

Namun, yang benar-benar menjadi keunggulan Juve adalah stadion tersebut merupakan stadion pertama yang dimilliki klub Italia. Fondasi yang penting bagi perkembangan klub.

Baca Juga:   Marcelo Ogah Komentar Soal Juventus

Pembaruan Merek yang Kontroversial

Langkah Juventus berikutnya adalah menciptakan brand alias merek yang lebih menarik. Akhirnya, perubahan itu terwujud pada tahun 2017 lalu.

Juve mengganti logo lama dengan logo baru yang lebih sederhana. Hanya huruf J besar yang awalnya sempat menuai kontroversi.

Biar begitu, Juve tetap yakin. Logo baru itu dipilih untuk meningkatkan sense of belonging fans Juventus. Sederhana saja, seperti lambang Nike Swoosh yang populer atau tiga strip Adidas.

Strategi di Bursa Transfer

Banyak penikmat sepak bola yang mengkritik Juventus sebagai “klub doyan gratisan”. Sebenarnya, apa yang salah dengan itu?

Kebijakan transfer Juventus merupakan salah satu yang terbaik di Eropa, dan itu terjadi berkat Beppe Marotta. Sebut saja Andrea Pirlo, Paul Pogba, Dani Alves, juga ada Leonardo Bonucci, Andrea Barzagli, dan Arturo Vidal.

Teranyar, ada Cristiano Ronaldo dan Matthijs de Ligt, juga Aaron Ramsey dan Adrien Rabiot yang gratis.

Kehadiran Cristiano

Musim lalu, Juventus mengejutkan bursa transfer dengan mendatangkan Cristiano Ronaldo dari Real Madrid. Hanya 105 juta poundsterling, Juve sudah mendapatkan pemain terbaik di Liga Champions.

Alasan Juve mendatangkan Ronaldo hanya satu: untuk membantu mereka menjadi juara Liga Champions. Tidak ada pemain lain yang sebaik Ronaldo jika sudah bicara soal Liga Champions.