Riset: Go-Jek Dianggap Sebagai Penyokong Terbesar Perekonomian Masyarakat

Rekanbola.com – Go-Jek merupakan salah satu perusahaan berbasis teknologi yang paling berpengaruh di Indonesia dan menjadi gapura ekonomi digital. Kehadiran Go-Jek berpengaruh  terhadap perekonomian serta produktivitas masyarakat Indonesia yang meningkat pesat.

Baca Juga :

5 Tips Seks Gunakan Film Porno Untuk Panaskan Ranjang Pasutri

Hal ini terbukti dari riset yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Falkultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, terkait dampak sosial ekonomi aplikasi Go-Jek.

1. Survey melibatkan  7.500 orang di 9 kota besar, termasuk Surabaya

Riset: Go-Jek Dianggap Sebagai Penyokong Terbesar Perekonomian Masyarakat

Penelitian ini melibatkan lebih dari 7.500 responden, yang terdiri dari 3.315 mitra pengemudi roda dua, 804merchant (mitra UMKM), dan 3.465 konsumen. Riset ini menggunakan metode kuantitatif dengan wawancara tatap muka dan metode sampling pencuplikan acak murni (pure random sampling).

Riset dengan margin of error di bawah 5 persen ini dilakukan selama Oktober-Desember 2017 di 9 kota besar di Indonesia, termasuk Surabaya.

Kota Surabaya sendiri melibatkan 378 sampel mitra pengemudi, 94 sampel mitra UMKM, dan 385 sampel konsumen dalam riset dan survei ini.

2. Kesejahteraan para pelaku ekonomi dan  konsumen meningkat secara signifikan

Riset: Go-Jek Dianggap Sebagai Penyokong Terbesar Perekonomian Masyarakat

Hasil riset menyatakan Go-Jek berperan besar dalam menekan angka pegangguran dengan menciptakan lapangan kerja yang luas. Penghasilan 95 persen mitra pengemudi meningkat 22 persen setelah bergabung dengan Go-Jek. Rata-rata pemasukan mereka setara dengan UMK Surabaya tahun 2017, yakni Rp 3,2 juta per bulan.

Ini menjadi salah satu alasan kenapa masyarakat masih mau bergabung menjadi mitra Go-Jek meskipun sudah memiliki pekerjaan. Indeks kebahagiaan atau kepuasan terhadap pekerjaan terkadang bukan cuma soal materi, dan Go-Jek dinilai bisa menawarkan kondisi tersebut.

“Mereka bisa menentukan sendiri otonominya seperti fleksibilitas waktu,” kata salah satu peneliti LD FEB UI, Paksi Walandouw dalam paparannya di Hotel Majapahit Surabaya, Kamis, (3/5). “Saat sakit atau lelah, mereka bisa bebas beristirahat. Saat ada acara, mereka bisa hadir tanpa perlu izin ke atasan.”

Baca Juga:   Rencana Impor Bawang Putih Dinilai Sarat Persoalan

Sementara itu, dikulik dari sisi mitra UMKM, fitur Go-Food membantu mereka untuk meningkatkan pangsa pasar serta efisiensinya. Dulunya yang tak pernah punya fitur pesan antar, kini bisa dengan mudah menjangkau konsumen lewat Go-Food.

Bahkan  57,5 persen mitra UMKM mengalami peningkatan volume transaksi lebih dari 10 persen, dan 27,66 persen mitra UMKM mengalami kenaikan klasifikasi omzet. Sedangkan bagi konsumen, aplikasi Go-Jek memudahkan kehidupan mereka sehari-hari. Berdasarkan data LD FEB UI, rata-rata konsumen mengeluarkan uang Rp 1.741.536 hanya untuk mengakses layanan Go-Jek.

3. Go-Jek berkontribusi hingga Rp 241 miliar untuk perekonomian Surabaya

Riset: Go-Jek Dianggap Sebagai Penyokong Terbesar Perekonomian Masyarakat

Selain memberi manfaat terhadap populasi pengguna serta mitra, perusahaan aplikasi ojek daring raksasa di Indonesia ini berdampak positif bagi ekonomi Kota Surabaya. Perusahaan yang didirikan Nadiem Makarim itu menyuntik pemasukan daerah hingga Rp 241 miliar per tahun. Yakni Rp 192 milyar per tahun melalui mitra pengemudi roda dua dan Rp 49 miliar melalui mitra merchant alias mitra UMKM.

Sedangkan bagi perekonomian nasional, kontribusi Go-Jek mencapai Rp 9,9 triliun per tahun. Di antaranya berasal dari penghasilan mitra pengemudi Rp 8,2 triliun dan mitra UMKM sebesar Rp 1,7 triliun.

4. Menimbulkan perilaku “ketergantungan” di masyarakat

Riset: Go-Jek Dianggap Sebagai Penyokong Terbesar Perekonomian Masyarakat

Go-Jek muncul sebagai suatu konsep yang baru dan belum pernah ada sebelumnya di Indonesia. Hal ini akhirnya menimbulkan suatu kecenderungan baru di masyarakat. Bagi para mitra pengemudi, pekerjaan sebagai driver  ojek online sangat membantu menambah penghasilan. Sebagian bahkan menjadikannya sebagai pekerjaan utama.

Sedangkan untuk konsumen yang aktif memanfaatkan aplikasi Go-Jek beserta fitur turunannya akan merasa kesulitan jika suatu ketika layanan ini ditutup. Dalam kata lain, interaksi ini menimbulkan “ketergantungan” terhadap satu sama lain meski konteksnya menguntungkan.

Baca Juga:   Lunturnya Kehebatan David De Gea

“Keberadaan Go-Jek merupakan bagian dari disrupting force di Indonesia, di mana akan ada pergeseran di dalam konsumsi dan ketenagakerjaan pada masa awal,” tutur Kepala LD FEB UI, Turro S. Wongkaren. “Namun diperkirakan pergeseran-pergeseran tersebut tidak akan berlangsung lama, sehingga manfaat GO-JEK pada perekonomian akan terus meningkat di masa depan.”

(Sumber : business.idntimes.com)

Baca Juga :