Sebanyak 26 Kambing Etawa Hangus Terbakar di Bojonegoro

Rekanbola – Sebanyak 26 ekor kambing etawa milik Lono (53), warga Desa Sitiaji, Kecamatan Sukosewu, Bojonegoro, Jawa Timur, hangus terbakar dalam kejadian kebakaran rumah, Kamis (23/8).

Camat Sukosewu, Bojonegoro, Mohammad Yasir menjelaskan kejadian kebakaran rumah milik Lono terjadi sekitar pukul 14.30 WIB.

“Lono ada di rumah. Tapi, dia mengetahui rumahnya terbakar, dalam kondisi api sudah membesar,” kata dia di Bojonegoro.

Kejadian kebakaran itu diketahui pertama kali oleh tetangganya Gunadi (52) yang mendengar suara ledakan ketika melewati samping rumah Lono.

“Api diketahui sudah membesar membakar rumah itu,” ujarnya.

Sesuai keterangan pemilik rumah Lono, diperkirakan api berasal dari “bediang” atau perapian di kandangnya yang berisi 26 ekor kambing jenis Etawa.

“Lono tidak bisa menyelamatkan kambingnya, karena api langsung membesar membakar rumahnya. Penyebabnya di dalam kandang banyak bahan pakan kering yang mudah terbakar,” kata dia menjelaskan.

Menurut dia, api dengan cepat membakar rumah Lono, tapi kebakaran tidak menjalar ke pemukiman warga lainnya yang ada di sekitar kejadian kebakaran.

Apalagi, lanjut dia, setelah itu datang satu unit mobil pemadam kebakaran (damkar) dengan sejumlah personel langsung mengisolasi kebakaran agar tidak menjalar ke pemukiman warga lainnya.

“Alhamdulillah kebakaran tidak menjalar ke pemukiman warga lainnya. Tapi rumah Lono berikut isinya termasuk 26 ekor kambing Etawa hangus terbakar,” katanya.

Ia memperkirakan kerugian akibat kebakaran rumah Lono mencapai Rp175 ribu.”Ya paling tidak harga kambing Etawa berkisar Rp3 juta-Rp4 juta per ekornya,” ucapnya.

Kepala Bidang Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Bojonegoro, Sukirno mengimbau masyarakat mewaspadai ancaman kebakaran baik pemukiman, maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.

Baca Juga:   Lantai di gedung BEI ambrol, karyawan dievakuasi lewat tangga darurat

“Selama musim kemarau kejadian kebakaran meningkat, sebab didukung bahan yang ada sekarang dalam kondisi kering, dengan cuaca yang panas ditambah angin,” ujarnya.