Sejumlah Keganjilan Sebelum Satu Keluarga Lakukan Bom Bunuh Diri di Gereja

Rekanbola- Sore itu mungkin jadi hari yang tak akan pernah dilupakan oleh warga Perumahan Wisma Indah, Wonorejo, Kota Surabaya. Sesuai pengakuan Ketua RT 02 RW 03 Kelurahan Wonorejo, Khorihan (65), seluruh masyarakat perumahan terpaksa dievakuasi saat anggota Gegana Brimob dan Densus 88 melakukan penggerebekan salah satu pelaku bom gereja di Surabaya yang masih satu keluarga. Polisi bergerak cepat melakukan penggeledahan teroris yang meledakkan tiga gereja di Surabaya.

“Warga dievakuasi jam 16.30 WIB. Semuanya ngumpul, diminta jangan panik dan tetap tenang. Dan diberi tahu ada penggerebekan teroris. Disuruh keluar katanya takut kalau ada bom yang bisa memakan korban,” ujarnya saat ditemui Okezone, Senin (14/5/2018) di Musala Al Ikhlas di perumahan setempat.

Awalnya, ia mengaku tak percaya bila salah satu keluarga yang ada di wilayah RT-nya adalah pelaku pengeboman bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5) pagi sekitar Pukul 07.15 WIB.

Khorihan bercerita, Dita Upriyanto (48), pelaku pengeboman merupakan sosok yang ramah, dermawan, gemar menyapa warga lainnya dan rajin melakukan salat berjamaah lima waktu di musala perumahan. Bahkan menurutnya, Dita sering mengajak kedua anaknya yakni Yusuf Fadil (18) dan FH (16) untuk salat berjamaah di Musala Al Ikhlas, bahkan salat subuh juga.

“Pak Dita langsung masuk ke musala setelah iqamah. Pulangnya setelah salat salam beberapa saat langsung pulang sebelum semua orang selesai zikir dan pulang. Tak pernah terjadi dialog. Begitu pula sang anak,” ujarnya.

Sementara sang istri Puji Kuswanti (43) yang juga menjadi pelaku bom bunuh diri di GKI Diponegoro, Surabaya, juga diakui warga sebagai sosok yang ramah, menjadi donatur tetap musala, gemar ikut arisan PKK perumahan, aktif ikut pengajian di kompleks perumahan, dan kerap bertegur sapa dengan ibu-ibu perumahan setempat.

Baca Juga:   Malcom Datang, Ousmane Dembele Minta Dilepas Barcelona

“Beliau Bu Dita donatur rutin musala. Arisan terakhir Maret dengan Bu Mudji. April tidak ikut. Memang arisan kita bulanan. Di arisan biasa saja, berpakaian juga biasa, berjilbab biasa, ramah, dan mudah akrab dengan orang. Kadang kalau ketemu nyapa itu teriak manggil nama saya dari dalam rumah” kata istri Khorihan.

Khorihan menambahkan, Dita tak berpakaian yang aneh-aneh. Namun dia mengakui bahwa sejak yang bersangkutan menjadi warga Perumahan Wisma Indah Wonorejo pada 13 Oktober 2014, tak pernah melihat Dita memakai sarung.

“Pak dita suka pakai celana kain dengan ukuran normal seperti kebanyakan, namun kebanyakan berwarna gelap yang dipakai. Setahu yang saya lihat tidak pernah pakai sarung,” tukasnya.

Ketua RT juga menyebutkan sering berkunjung ke rumah Dita untuk menawarkan berkurban saat Idul Adha tiba. “Sering masuk ke rumahnya saat menjelang Idul Adha. Ya tidak ada yang aneh di dalam rumah,” tutur Khorihan.

Hal yang sama diungkapkan tetangga Dita sekaligus Ketua RW Perumahan Wisma Indah Wonorejo, Taufik Gani (60), bahwa pada kesehariannya Dita beserta keluarga seperti layaknya warga lainnya. “Orang yang biasa bergaul, bahkan diajak ngobrol oleh tetangga-tetangganya. Rumahnya terbuka, pagarnya ram-raman bisa dilihat dari luar,” ujar Taufik ditemui di kediamannya yang berjarak empat rumah dari pelaku bom bunuh diri.

Namun satu kejanggalan terkuak dari istri Khorihan, bahwa keluarga Dita tak pernah mau diminta memberi fotokopi KTP dan Kartu Keluarga (KK), bahkan untuk sekadar menunjukkan ke pihak RT pun, Dita enggan melakukannya. “Tidak mau ngasih KK dan KTP, bahkan menunjukkan pun tidak mau. Begitu pun menunjukkan KTP juga tidak mau,” ujar istri Pak RT ini.

Baca Juga:   Liverpool Lempar Bendera Putih Kejar Alisson

 

 

(Sumber : Okezone.com >)