Sentimen The Fed Kembali Sentil Rupiah Melemah ke Rp14.900

REKANBOLA — Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.918 per dolar Amerika Serikat(AS) pada sore ini, Selasa (25/9), melemah 52 poin atau 0,35 persen dari posisi kemarin.

Kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), menempatkan rupiah di level Rp14.893 per dolar AS atau melemah dari posisi kemarin Rp14.865 per dolar AS.

Rupiah menjadi mata uang yang paling terpuruk di hadapan dolar AS hari ini. Di kawasan Asia, pelemahan rupiah diikuti renminbi China yang minus 0,32 persen, peso Filipina minus 0,22 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,21 persen.

Kemudian, rupee India minus 0,15 persen, yen Jepang minus 0,04 persen, dolar Singapura minus 0,03 persen, dan baht Thailand minus 0,03 persen. Hanya dolar Hong Kong dan won Korea Selatan yang berhasil menguat, masing-masing 0,02 persen dan 0,09 persen.

Pelemahan juga dirasakan oleh beberapa mata uang utama negara maju. Franc Swiss melemah 0,22 persen, dolar Australia minus 0,13 persen, dan dolar Kanada minus 0,04 persen.

Namun, euro Eropa, poundsterling Inggris, dan rubel Rusia berhasil berada di zona hijau dengan menguat masing-masing 0,12 persen, 0,21 persen, dan 0,23 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi menilai pelemahan rupiah dan mayoritas mata uang di Asia terjadi karena sentimen kenaikan tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve kembali membayangi pasar keuangan dunia.

“Ada unsur price in (memasukkan sentimen) oleh investor untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada Kamis dini hari mendatang,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (25/9).

Menurutnya, meski sebenarnya pelaku pasar sudah mengetahui dan memperhitungkan kenaikan bunga acuan The Fed, namun sentimen ini memang wajar kembali mempengaruhi setiap kali The Fed akan menggelar The Federal Open Market Committee (FOMC).

Baca Juga:   Pemerintah Luncurkan Kartu Sehat Buat Karyawan BUMN

Kondisi di dalam negeri, sentimen juga datang dari ‘tebak-tebak’ pelaku pasar pada langkah yang akan diambil oleh bank sentral nasional. Meski BI belum menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG), namun sejumlah pihak memperkirakan bank sentral akan mengikuti kenaikan bunga acuan The Fed pada bulan ini.