Sisi Laten Geopolitik Jawa Pedalaman versus Jawa Pesisir dalam Hubungan Penguasa-Ulama

Rekanbola Di era pemerintahan Jokowi, hubungan kekuasaan dengan ulama kelihatan secara kasat mata tidak mesra dan seringkali benturan. Di lapis permukaan, sepertinya itu memang sebatas hubungan politis yang tidak harmonis. Namun menelisik kesejarahannya, terutama di Jawa, ada sesuatu yang lebih laten sifatnya.

Ulama besar kita, Buya Hamka, pernah menulis buku yang cukup mendalam bertajuk Dari Perbendaharaan Lama, Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara. Menurut Hamka yang pernah diberi amanah memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada era pemerintahan Suharto. Sejak peralihan dari era kerajaan Majapahit ke kerajaan Demak, telah dijadikan obyek pemutara-balikan sejarah oleh penjajah Belanda, bahwa runtuhnya Majapahit akibat serangan Islam. Ini merupakan kesalahan yang disengaja terhadap sejarah.

Alhasil, tujuan Belanda berhasil untuk menghilangkan penghargaan terhadap para ulama tingkat tinggi yang waktu itu popular dengan sebutan Para Wali seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Kalijaga.

Pemutarbalikan sejarah ini dimotori oleh Prof Snouck Hourgronye, yang mana tujuan straegisnya adalah memutus peran sentral Islam sebagai jiwa pemersatu di Indonesia. Atau dalam istilah Buya Hamka, teguhnya urat keislamanan di Indonesia.

Sehingga fakta sejarah upaya mengusir penjajah portugis dari Malaka seperti yang dilakukan Raden Patah dan Pati Unus, justru tersingkir dari memori kolektif masyarakat nusantara.

Padahal, melalui para ulama tingkat tinggi inilah, penyebaran Islam pertamakali terjadi di bumi nusantara.

Hanya belasan kilometer saja dari kota Surabaya, terdapat bukit Giri. Di sanalah berkubur seorang di antara Wali Sanga, Raden Paku, yang lebih masyhur dengan gelar Sunan Giri. Putra dari Maulana Ishak, teman Maulana Malik Ibrahim. Merekalah penyiar-penyiar Islam yang pertama di tanah Jawa.

Maulana Ishak, kemudian kembali ke Pasai, sementarara Raden Paku alias Sunan Giri dijadikan anak angkat oleh seorang perempuan kaya raya, Nyi Gede Maloka. Setelah beranjak dewasa, Raden Paku mempelajari Islam secara lebih mendalam ke Ampel, dan belajar bersama-sama putra Raden Rahmat (Sunan Ampel), Makhdum Ibrahim. Kelak Makhdum Ibrahim bergelar Sunan Bonang.

Menariknya, Raden Paku dan Raden Rahmat inilah yang kemudian dinilai oleh kanjeng Sunan Ampel sebagai ulama-ulama tingkat tinggi yang mampu berpengetahuan Islam lebih dalam. Sehingga keduanya disuruh berangkat ke luar Jawa dan naik haji ke Mekah. Namun sebelum itu, mereka berdua singgah dulu di Pasai Aceh, untuk menuntut ilmu kepada para ulama di sana. Dan di sana pul Raden Paku  berjumpa kembali dengan ayahnya.

Apakah dari kisah ini tersirat bahwa para ulama yang berpengetahuan mendalam mengenai Islam harus digembleng terlebih dahulu di Pasai Aceh? Ini memang masih merupakan misteri sejarah yang menarik untuk digali lebih jauh.

Yang jelas, kala itu banyak ulama keturununan India dan Persia yang membuka pengajian di Pasai sehingga para ulama di Malaka bila ada yang tersangkut persoalan, ia bertanya ke Pasai.

Adapun ilmu yang dipandang menjadi inti segala ilmu di waktu itu atau yang disebut “Ilmu Sejati” ialah ilmu ketuhanan menurut ajaran tasawuf.

Baca Juga:   Kalau Messi Tidak Dapat Award, Pemenangnya Harus Modric

Singkat cerita, setelah kedua pemuda itu mendapat ijasah dari guru, mereka pun kembali ke tanah Jawa. Di antara mereka berdua, Raden Paku lah yang berhasil mendapat Ilmu Laduni, artinya ilmu yang langsung diterima dari Tuhan sehingga gurunya di Pasai memberinya nama yang tinggi, Ainul Yakin.

Maka, siasat ,mereka menyebarkan Islam pun berjalan menurut bakat masing-masing. Sunan Bonang memasukkan pengaruh Islam ke dalam kalangan orang atas, ke Keraton Majapahit, dan membuat tempat berkumpul murid-muridnya di Demak. Adapun Syech Ainul Yakin mengadakan tempat berkumpul di Giri, terdiri dari orang kecil. Sunan Bonang menanamkan pengaruh ke dalam, Sunan Giri selalu mengirim utusan ke luar Jawa. Terdiri dari pelajar, saudagar, dan nelayan, dari pulau Madura sampai Bawean dan Kangean, bahkan sampai ke Ternate dan Haruku.

Siasat Boang memberikan didikan Islam kepada Raden Patah, putra Brawijaya V Majapahit, dengan terlebih dahulu menyediakan Demak Bintoro untuk menegakkan Negara Islam. Jadi Bonang lebih condong mengikuti bakat khususnya sebagai politisi. Adapun Sunan Giri, mengajarkan agama Islam dan mengirim para mubaligh ke mana-mana adalah siasat mendekati masyarakat.

Sayangnya, Sunan Bonang hanya sempat berhasil mendirikan kerajaan Demak dengan membidani kemunculan Raden Patah sebagai Sultan Demak pertama. Namun tujuan strategisnya untuk menjadikan Demak sebagai pusat Islam selama-lamanya, tidak berhasil. Sebab setelah Raden Patah, Pati Unus dan Sultan Trenggono, kemudian beralih ke menantunya Sultan Trenggono, Hadiwijaya. Dan setelah itu. Demak beralih ke Pajang pada 1546, dan setelah itu beralih ke Mataram, Jawa pedalaman, sehingga sejak itu banyak ajaran Islam dicampur-baurkan dengan ajaran Hindu dan Buddha.

Sebaliknya, strategi Sunan Giri masih tetap berhasil mempertahankan diri sebagai pusat Islam. Anak cucu Sunan Giri mampu mempertahankan keistimewaan Giri sebagai pusat agama. Namun pada fase kesejarahan ini pula, hubungan antara ulama dan penguasa (umaro) di tanah Jawa mulai memperlihatkan benturan politis. Hal ini bermula ketika Sunan Giri mulai melihat keislaman Mataram telah banyak  berubah. Sehingga Sunan Giri terpanggil untuk membantu Adipati Surabaya dan adipati-adipati Madura berontak melawam Mataram (1615).

Bahkan pada 1625 para adipati Jawa Timur tetap melancarkan perlawananan terhadap Mataram di bawah kepeloporan Sunan Giri. Namun sayang perlawanan itu kandas. Sunan Giri ditangkap dan dibawa ke Mataram. Meski kemudian dikembalikan ke Giri, gelar kebesaranya diturunkan dari Sunan jadi Panembahan.

Namun, bara sekam permusuhan ulama dan penguasa Mataram bukannya padam malah tetap membara. Ketika Sultan Agung Mataram wafat, Sunan Amangkurat I, menggantikan ayahnya menduduki tahta kerajaan. Ketika itu, Trunojoyo melancarkan pemberontakan terhadap Sultan Amangkurat I, dibantu oleh Karaeng Galesong dari Makasar, pada 1675. Selain mendapat dukungan penuh dari keturunan-keturunan ulama Giri, Trunojoyo mendapat gelar Kepala Perang Sabil. Seperti halnya Sunan Giri, perlawanan Trunojoyo pun tumpas pada 1979, semasa Mataram di bawah kepemimpinan Amangkurat II. Oleh sebab dukungan penuh dari kompeni Belanda yang waktu itu sedang mengincar Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Baca Juga:   Pesawat jet milik Rusia jatuh di Suriah, pilot tewas diserang kelompok ekstrimis

Begitupun, sejarah kelak mencatat bahwa Girilah yang melatarbelakangi perlawanan yang tidak putus-putusnya dari Jawa Timur. Sehingga Pangeran Giri, keturunan paling akhir dari Syech Ainul Yakin, Raden Paku, ditahan dan dihukum mati pula. Keris kebesaran Giri yang bersejarah, yang turut mengalahkan Majapahit bertahun-tahun lamanya, ditahan di Mataram, Sejak itu Giri tidak bangun lagi.

Maka itu, di era Amangkurat II inilah, dalam upaya Mataram untuk menghilangkan unsur-unsur yang berbahaya, sekitar 5000 sampai 6000 Kiai dan santri dihukum di depan umum. Agar jangan sampai ada orang menyebut-nyebut agama Islam yang bersih dan tauhid yang khalis (murni).

Melalui konstruksi kisah tadi, Buya Hamka nampaknya hendak menyajikan sebuah catatan penting. Bahwa sejak era pasca Demak yang kemudian beralih ke Pajang, lalu ke Mataram, Islam yang semual menjadi jiwa pemersatu nusantara, kemudian meredup, oleh sebab pergeseran karakteristik geografis yang semula berada di pesisir yang serba luas membentang, beralih ke daerah pedalaman yang menyempit dan dangkal.

Dari segi sosial-budaya, terjadi peralihan dari tauhid Islam, menjadi percampuran antara tauhid Islam dengan Brahmana Hindu. Sehingga berpindahlah pemusatan dari kepercayaan kepada Allah SWT, ke pemusatan penyembahan kepada Raja. Ditukarlah nama Wali jadi Sunan. Pudarlah keislaman, timbullah kejawaan (Kejawen).

Inilah aspek geopolitik Jawa yang luput dari tinjauan dan telaah para ahli hingga kini. Bahwa sejak pergeseran dari Demak ke Pajang dan Mataram, kian lama kian nyata perbedaan pandangan hidup di antara dua Jawa: Jawa Pedalaman dengan Jawa Pesisir. Apalagi ketika Belanda sebagai unsur bangsa Asing, masuk ke kancah ini, semakin menajam dan meruncinglah perbedaan itu.

Salah satu karakteristik geografis Jawa Pesisir yang secara khusus menarik disorot adalah Pulau Madura. Inilah pulau yang mewakili lingkup pandangan hidup Jawa Pesisir. Pulaunya kecil, tetap semangat Islam telah masuk ke dalam sumsum mereka. Mengingat wataknya yang berjiwa Jawa Pesiri inilah, maka Madura termasuk yang berada di garis depan pendukung berdirinya kerajaan Demak yang dimotori oleh Sunan Bonang.

Watak masyarakatnya berjiwa bahari dan senang berlayar, dan mengembara ke Bugis, Ternate, Pontianak, Malaka dan juga ke Mekah. Meski pulaunya tandus, namun anak-anak Madura tidak pernah merasa dirinya misiki. Kekayaan ada di Laut.

Jiwa masyarakat Madura yang lebih sreg dengan jiwa orang Bugis yang sama-sama suka berlayar, maka tak heran setelah pamor Kerajaan Gowa jatuh, salah seorang bangsawan Gowa (Makasar) Karaeng Galesong mengembara dengan perahu berserta anak buahnya, sampai ke Madura. Inilah yang kemudian menyatukan secara batiniah antara Karaeng Galeson dengan Trunojoyo, salah seorang darah turunan Pangeran Langgar, bersama-sama melancarkan perlawanan kepada Kerajaan Mataram, di bawah kepeloporan Sunan Giri.

Apa sesungguhnya pandangan inti para ulama sehingga mengalami benturan dengan Kerajaan Mataram utamanya pada era Amangkurat I dan II? Pertama, para ulama menentang pandangan bahwa raja merupakan wakil mutlak Allah SWT untuk memerintah alam. Para ulama lebih tertarik akan cara pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam di Aceh. Yakni kaum agama diberi hak luas menyiarkan Islam dan mengajarkannya.

Baca Juga:   Ustaz Somad Mundur, Prabowo-Salim Segaf Langsung 'Kawin'?

Raja tidak boleh menenggang hati golongan yang belum Islam sehingga kemajuan Islam terhambat. Apalah artinya tanah Jawa menerima Islam sebagai Agama, padahal hukum agama tidak menjadi kenyataan. Bahkan upacara-upacara kehinduan masih berlaku.

Alhasil, karena emosi yang meluap-luap didorong oleh rasa tauhid yang bergelora di dada, para ulama kadang bersikap seperti orang kurang ajar alias mbalelo. Mereka datang ke istana memakai pakaian Arab seperti sorban, jubah, tasbih di tangan dan tidk mau menyembah sujud kepada Ingkang Sinuhun.

Masalahnya, sewaktu Sultan Agung masih berkuasa, baginda sultan masih bisa merangkul kalangan ulama meskipun sinkretis dalam keislamannya. Tetapi putranya, Amangkurat I, bukan sekadar berbeda pandangan, namun hakekatnya memang membeci ulama dan kiai. Di depan para ulama dan kia sombong, tidak hormat, dan melanggar sopan-santun dan adab.

Intinya, supaya ajaran Islam yang tegas melalui perantaraan para ulama dan kiai itu, jangan diajarkan kepada rakyat. Ulama tidak  boleh menjalin kontak langsung kepada masyarakat. Yang bertanggungjawab menghadapi rakyat kecil hanyalah lurah. Camat, Wedana, Demang, Patih, Bupati, Adipati baru ke kanjeng Sultan.

Adapun ulama yang sah hanyalah yang resmi dalam pemerintahan. Kerjanya hanya mengurus masjid, tinggal sekeliling Kauman, mencukupkan jemaah 40 orang. Kedudukan mereka sebagai Jogosworo.

Dalam pandangan Amangkurat I, jika ajaran ulama sampai ke rakyat kecil, kacaulah pemerintahan, hilang dan lenyaplah kepatuhan kepada yang di atas.

Inilah yang kemudian memicu pertentangan terbuka antara ulama dan Sultan Amangkurat I di dalam tubuh kerajaan Mataram. Sehingga ketika eskalasi konflik semakin meninggi, Amangkurat I memerintahkan menangkap seluruh kiai dan santrinya dalam seluruh kerajaan, yang tidak kurang dari 7000 orang, menyuruh mereka naik ke tiang gantungan.

Dalam kisah yang dirajut oleh Buya Hamka dalam bukunya itu, terkandung sebuah pesan hikmah. Betapa ada sesuatu yang masih laten dan ibarat bara sekam antara Jawa Pedalaman versus Jawa Pesisir. Maka itu konstruksi kisah Buya Hamka ini, menyadarkan kita bahwa hal laten antara ulama dan penguasa yang dipahat melalui sejarah hitam Sultan Amangkurat I dan II, masih hidup dan membara hingga saat ini. Khususnya di tanah Jawa.

Bukan suatu kebetulan manakala kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 lalu bertumpu pada kota-kota yang dulunya adalah mata-rantai Jawa Pedalaman yang masih kuat ajaran kejawaan (kejawennya) seperti Solo, Karanganyar, Sukoharjo, Kartosura, Delanggu, Wonogiri, dan Boyolali.

Sayangnya, geopolitik Banyumasan yang semestinya potensial untuk mengimbangi dominasi simpul Surakarta tadi masih jadi daerah tak bertuan dan belum tergarap. Seperti Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap hingga Tegal. Yang sejatinya merupakan geopolitik Jawa Pesisir. Dan kuat rasa keislamannya dibandingkan beberapa kota Jawa Tengah yang tersebut tadi.