Strategi untuk Milenial Timbun Dana untuk Investasi Tanah

Rekanbola –  Investasi tanah belum bisa disebut lumrah bagi kalangan milenial. Maklum, kocek yang dibutuhkan untuk membeli tanah relatif tak sedikit. Terlebih jika lokasi lahan yang diincar berada di kawasan strategis.

Meski tak lumrah, bukan berarti investasi tanah menjadi mustahil bagi anak muda. Riska Rahman buktinya. Perempuan kelahiran 1993 ini telah ‘mencicipi’ berinvestasi tanah sejak 2015 lalu, saat dirinya masih duduk di bangku kuliah.

Menggunakan tabungan yang ia kumpulkan sejak empat tahun sebelumnya, Riska membeli tanah di Lhokseumawe, Aceh, senilai Rp25 juta. Harganya memang terbilang murah dibanding lahan di ibu kota.

“Tanah yang dibeli berbentuk kebun isi buah-buahan. Di kampung harga jualnya berdasarkan isi tanahnya, jadi bukan luasnya,” cerita Riska kepada Rekanbola.com.

Ketertarikannya berinvestasi tanah timbul karena bujukan keluarga besarnya yang tinggal di Lhokseumawe. Kakeknya juga memiliki tanah yang ditanami berbagai buah-buahan, dan selalu mendulang untung saat musim panen.

“Setelah Kakek meninggal kebun-kebun Kakek dijaga oleh Ibu, Om, dan Tante. Mereka bilang investasi di tanah, enak karena uangnya mengalir terus,” ucap Riska.

Perencana Keuangan ZAP Finance Prita Hapsari Ghozie mengatakan kaum milenial yang baru bekerja dan masih memiliki gaji minim sekitar Rp5 juta bisa menyisihkan Rp1 juta dari pendapatannya untuk ditabung setiap bulan. Angka itu setara dengan 20 persen dari gaji atau jumlah ideal menabung per bulan.

“Pembelian tanah mungkin yang nilainya masih dibawah Rp100 juta. Ini karena milenial juga perlu untuk membeli rumah untuk tempat tinggal,” ucap Prita.

Investasi memang penting untuk kaum milenial. Namun, jangan sampai mereka lupa membeli rumah sebagai kebutuhan pokok kelak ketika sudah memiliki keluarga.

Baca Juga:   Harry Kane Minta Inggris Lupakan Masa Lalu

Jika kalangan milenial sulit konsisten menabung 20 persen dari gaji, dan dianggap opsi yang berat, maka bisa menerapkan strategi dengan menjadi makelar tanah terlebih dahulu.

Makelar adalah perantara antara pembeli dan penjual tanah. Biasanya, makelar bisa juga diperbantukan untuk mencarikan tanah dengan model dan harga yang sesuai dengan keinginan calon pembeli. Begitu juga sebaliknya, makelar bisa saja diberi kuasa oleh pemilik tanah untuk mencarikan pembeli dengan harga tertentu.

Selain bisa mencari uang tambahan, kaum milenial juga bisa mempelajari cara mencari lokasi tanah yang bagus dan negosiasi harga dengan penjual.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan makelar minimal mendapatkan upah sebesar 5 persen dari harga barang yang dijual.

Keuntungan lain, lanjut dia, milenial yang menjadi makelar bisa lebih tajam memproyeksi lokasi tanah yang strategis dan memberi keuntungan dalam beberapa tahun kemudian.

Jika lokasi tanah yang strategis sudah ditemukan, dana pun sudah terkumpul, calon investor bisa segera bertransaksi memborong lahan. Namun, sebaiknya periksa terlebih dahulu surat sertifikat tanah yang dimiliki penjual.

“Karena kadang ada tanah warisan dijual luas misalnya yang harusnya dibagi-bagi, tapi itu sertifikat belum dipecah. Jadi kadang ribet kalau tanah warisan,” kata Andi.

Salon pembeli juga harus memastikan lagi lokasi keberadaan tanah. Salah satunya, bertanya kepada warga sekitar mengenai kondisi lingkungan dan pembangunan yang akan dilakukan dekat tanah tersebut.

Investor juga perlu teliti terhadap status tanah yang hendak dibeli. Selain itu, investor juga perlu memeriksa secara rinci luas tanah yang akan dibeli.

“Lalu batasan fisik dalam bentuk pagar perhatikan juga,” tutur Prita.