Suku Bunga Acuan BI Naik, Ini Kata Pengamat

REKANBOLA – Ekonom Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat angkat suara terkait keputusan Bank Indonesia yang kembali menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuannya. Menurutnya, meski keputusan ini tepat, namun BI perlu mencermati seluruh aspek serta dampak yang akan terjadi ke depannya.

“So far saya liat BI sudah prudence, dia sudah jaga, Kemudian acuan normatif yang lain adalah, jangan sampai suku bunga BI jauh lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi,” kata Budi dalam acara Pelatihan Wartawan Ekonomi Nasional, di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (18/11).

Budi mengatakan, apabila suku bunga acuan lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran lima persen, maka akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Tanah Air. “Makanya saya masih punya harapan ke depan BI tidak seagresif tahun ini,” katanya.

Meski demikian, Budi mewajarkan langkah kebijakan yang ditempuh oleh bank sentral dalam menaikkan suku bunga acuannya. Sebab, tahun ini boleh dibilang sedikit syok karena telah terjadi outflow dari saham DNA dari Foreign Direct Investment (FDI).

“Tahun depan, setelah politik dan lain-lain, kemungkinan kondisinya akan lebih bagus, pemerintah juga bisa mengurangi kebijakan populis yang justru paling pengaruhi CAD,” katanya.

Seperti diketahui, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan BI 7- Day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan sebesar 25 basis point (bps) menjadi 6,00 persen. BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen dan Lending Facility menjadi 6,75 persen.

Baca Juga:   Ikuti AS, Bank Sentral China Naikkan Suku Bunga Jadi 2,55%