Sumur-sumur Bor di NTB Mengering

Rekanbola Sumur-sumur bor yang merupakan salah satu sumber mata air yang dikelolah PDAM Kota Kupang untuk melayani warga di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur mengering bersamaan musim kemarau.

“Debit air pada sumur-sumur bor yang ada turun sekitar 30 persen, namun kami masih bisa menyiasati untuk mendistribusikan kepada para konsumen,” kata Direktur PDAM Kota Kupang Marius R Seran di Kupang, Sabtu (27/10).

Sumber air baku di Kota Kupang sangat terbatas, sehingga datangnya musim kemarau saat ini, ikut mempengaruhi debit air yang ada.

Debit air pada sejumlah lokasi, kata dia, mengalami penurunan hingga 30 persen dari kondisi normal, namun PDAM Kota Kupang masih tetap mendistribusikannya kepada para konsumen sesuai jadwal yang ada.

Direktur PDAM Kabupaten Kupang Tris M Talahatu juga mengakui bahwa telah terjadi penurunan debit air di beberapa lokasi yang dikelola PDAM Kabupaten Kupang.

Di musim kemarau, penurunan debit air tanah permukaan mencapai 60 persen, sedangkan untuk air tanah dalam, seperti sumur bor mencapai sekitar 30 persen, kata Tris.

Ada sekitar 14 sumur bor yang dikelola PDAM Kabupaten Kupang, selain sumber mata air dan Bendungan Tilong untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat di daerah ini.

Masyarakat pengguna air yang berasal dari sumur bor mengaku tidak mengalami kekurangan air walaupun sedang dilanda musim kemarau seperti yang sedang berlangsung saat ini.

Air yang diperoleh dari sumur bor, mengalir ke rumah-rumah warga setempat setiap hari. Jadi kami tidak kesusahan air meskipun sedang dilanda musim kemarau, kata Viktor, salah seorang warga Kelurahan Lasiana.

Menurut dia, ada salah satu titik sumur bor milik PDAM Kota Kupang berada di Kelurahan Lasiana. Warga yang menggunakan air dari sumur bor tersebut, umumnya menyedot kembali kemudian menampungnya di sebuah bak besar yang letaknya tak jauh dari sumur bor tersebut.

Baca Juga:   Sebanyak 7.061 Pelamar Lolos Seleksi Administrasi CPNS Kemensetneg dan Setkab

Air yang ditampung itu kemudian didistribusikan secara terjadwal kepada masyarakat di Kelurahan Lasiana. “Kalau warga sekitar sumur bor ini memperoleh air setiap hari, kecuali pada tanggal-tanggal merah dan hari minggu,” katanya.

Tapi untuk masyarakat yang tinggal jauh dari sumur bor memperoleh air berdasarkan jadwal buka keran, ujar Rasit, salah seorang warga kelurahan Lasiana RT.17/RW.004.

Masyarakat yang bermukim di Kelurahan Belo juga mengakui tidak terlalu mengalami kesulitan air bersih di musim kemarau tahun ini, meski sebagian sumur bor mulai menunjukkan tanda-tanda kering.

Di sini kami tidak kesulitan mendapatkan air bersih, meski sistem pendistribusiannya menggunakan jadwal. Air tetap ada untuk kebutuhan, kata Yanti, salah seorang warga di kelurahan setempat.

Ia mengatakan jika hujan belum juga turun maka pihak PDAM akan melakukan penjadwalan ulang terhadap sistem distribusi air agar semua pelanggan ikut merasakannya.