Tabu ‘Menitip’ Kehamilan pada Ibu Pengganti

Rekanbola –  Budaya ibu pengganti atau surogasi masih dianggap tabu di sejumlah negara, termasuk di antaranya Nigeria.

Kisah Ada, misalnya, seorang wanita asal Nigeria, yang menjalani hidup sebagai ibu pengganti. Keputusannya untuk menjadi ibu pengganti sempat ditolak sang suami.

Ketertarikan Ada bermula pada sebuah acara reality show di sebuah televisi. Awalnya, Ada berpikir gagasan itu hanya berlaku bagi orang Barat. Namun, pengakuan seorang teman yang pernah melakukan hal serupa membuatnya berubah pikiran.

Konsep surogasi atau ibu pengganti sendiri merupakan praktik ‘titip’ kehamilan. Seorang wanita setuju untuk menjalani kehamilan untuk orang lain yang kelak bakal jadi orang tua sah si buah hati.

Sayang, beberapa negara konservatif dengan sistem kepercayaan kuat masih memandang skeptis surogasi. Padahal, praktik ibu pengganti ini memiliki akar sejarah. Beberapa etnis di Nigeria seperti suku Igbo dan Yoruba misalnya, yang menggunakan ibu pengganti ketika seorang istri tidak dapat hamil.

Di Igbo, misalnya, seorang wanita dapat menikah dengan sesama jenis. Untuk memiliki anak, mereka bisa ‘meminjam’ sperma pria yang identitasnya tak akan pernah diungkapkan.

Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi pun kian pudar. Alih-alih menggantikan, sistem surogasi anyar yang sesungguhnya menguntungkan untuk pihak ibu pengganti, tapi tampak keruh.

Ada, misalnya, yang dibayar US$ 5.500 atau setara dengan Rp80,1 juta sebagai ibu pengganti. Pihak yang membutuhkan jasa Ada memberikan akomodasi yang layak untuk dirinya sendiri sebagai surogasi, sang suami, dan kedua anak kandungnya.

“Itulah yang membuat saya tertarik pada proyek ini,” kata Ada, mengutip AFP. Kondisi ekonomi kembali menjadi alasan. Meski takut, tapi Ada mulai memandangnya dengan cara yang berbeda dan dijalani jua.

Baca Juga:   Alves Yakin Ronaldo Akan Kembali Juara di Juventus

Ada akhirnya melahirkan anak kembar. Agar tak menimbulkan kecurigaan dan stigma negatif, Ada mengaku keguguran pada teman-temannya.

Surogasi memang masih menjadi hal tabu. Wanita yang memilih jalan hidupnya sebagai ibu pengganti jelas tak lepas dari pandangan negatif masyarakat.

Infertilitas menjadi salah satu faktor yang bertanggung jawab dalam maraknya praktik surogasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sebanyak 10 persen wanita di dunia menderita infertilitas. Di Indonesia, tercatat hampir 150 ribu kasus infertilitas setiap tahunnya. Selain itu, praktik surogasi juga biasanya disebabkan oleh kondisi rahim ibu yang tidak sempurna.

Di dunia, beberapa negara tercatat telah memiliki payung hukum sendiri untuk praktik surogasi. “Permintaan surogasi di dunia terus meningkat,” klaim ahli kandungan dari Harley Street Fertility Clinic, dr Suvir Venkataraman, mengutip Standard. Kendati permintaan meningkat, menemukan ibu pengganti bukanlah hal yang mudah.

Praktik surogasi di sejumlah negara masih berstatus ilegal. Sementara beberapa negara lainnya seperti Amerika Serikat, Meksiko, India, Thailand, Ukraina, dan Rusia kerap disebut sebagai ‘rumah’ bagi praktik surogasi dengan biaya ibu pengganti senilai puluhan ribu dolar AS.