Takut jasad tak dikenali, warga Afghanistan simpan catatan kecil di dalam dompet

Rekanbola.com – Mujeebullah Dastyar membuka dompetnya yang berisi sehelai kertas bertuliskan nama dirinya, nomor telepon penting, golongan darah, dan alamat tempat dia bekerja.

“Jika saya terluka atau bahkan tewas dalam serangan, setidaknya dokter mendapatkan informasi tentang saya,” kata Mujeebullah, seperti dilansir dari laman Aljazeera, Senin (29/1).

Seperti penduduk Kabul, Afghanistan, lainnya, Mujeebullah, 28 tahun, merasa tidak berdaya setelah Taliban mengklaim serangan bom bunuh diri pada Sabtu lalu di ibu kota Afganistan tersebut, yang membuat lebih dari 100 orang tewas dan 235 korban lainnya terluka.

Mujeebullah mengaku banyak korban yang hilang setelah serangan tersebut, termasuk temannya. Jadi dia harus mengunggah informasi tentang ciri-ciri orang yang dicari di media sosial, di mana dia dirawat atau apakah dia masih hidup atau sudah meninggal.

Karena rasa yang tidak aman ini, pria pegawai negeri itu kini harus sering-sering menelepon orang tuanya yang berada di luar negeri, untuk memberitahu keadaan dirinya.

“Mereka (orang tua) sangat mencemaskan keadaan saya. Tapi saya sudah melihat serangan seperti ini sejak lahir, jadi saya sudah siap segalanya. Saya sudah berpengalaman untuk hal seperti ini,” kata Mujeebullah.

Ketakutan juga dialami mahasiswa ilmu politik, Fazila Shahedi (20). Suara sirine ambulans mengingatkan dia pada ledakan mematikan tersebut.

Shahedi juga menyimpan catatan kecil di dompet dan saku jaketnya. Jadi, jika salah satu catatan rusak akibat serangan, masih ada satu catatan lagi di tempat lainnya.

“Tidak ada seorangpun yang tahu jika saya mati besok dalam serangan bom bunuh diri. Jadi catatan itu akan menolong keluarga dan teman saya,” kata Shahedi.

Baca Juga:   Tujuh kali tawarkan DS ke pria hidung belang, muncikari di Palembang ditangkap

Lain hal dengan Mujeebullah dan Shahedi, salah satu warga Kabul berusia 25 tahun mengaku dia akan menuliskan sesutau di buku hariannya.

“Ketika saya merasa tak berdaya, saya menuliskannya di buku harian saya. Melihat situasi saat ini di Kabul, saya tidak tahu apakah saya akan hidup. Saya tidak bisa tidur sepanjang malam kemarin, jadi saya berpikir akan menulis catatan di halaman pertama buku harian saya, meminta siapapun yang mendapatkan lebih dahulu setelah saya mati, untuk tidak membaca apa pun isi yang ada di dalamnya,” kata dia.

“Saya sudah beritahukan kepada orang tua, kalau saya mati jasad saya tolong diserahkan ke Universitas Kedokteran Kabul untuk praktik mahasiswa.

 

Baca Juga :

 

Hasil gambar untuk MInion logo