Tarif Balasan China ke AS Diprediksi Perkuat Rupiah

REKANBOLA — Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.845 per dolar Amerika Serikat(AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (20/9). Posisi ini menguat 30 poin atau 0,2 persen dari sore kemarin, Rabu (19/9) di Rp14.875 per dolar AS.

Sejalan dengan rupiah, mayoritas mata uang lain di kawasan Asia juga menguat. Dolar Singapura menguat 0,01 persen, yen Jepang 0,02 persen, baht Thailand 0,12 persen, won Korea Selatan 0,13 persen, ringgit Malaysia 0,14 persen, dan peso Filipina 0,17 persen.

Sementara itu, dolar Hong Kong stagnan dan renminbi China melemah 0,08 persen dari dolar AS.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju yang mayoritas menguat dari mata uang Negeri Paman Sam. Dolar Kanada menguat 0,02 persen, franc Swiss 0,02 persen, dan euro Eropa 0,07 persen.

Namun, poundsterling Inggris stagnan. Sedangkan rubel Rusia melemah 0,16 persen dan dolar Australia minus 0,06 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi memperkirakan rupiah berpeluang menguat pada hari ini dengan bergerak di rentang Rp14.815-14.900 per dolar AS.

“Rupiah berpeluang menguat kalau sentimen pelemahan dolar AS berlanjut,” ucapnya kepada Rekanbola.com, Kamis (20/9).

Menurutnya, dolar AS berpotensi melemah karena China telah mengeluarkan balasan tarif bea masuk impor untuk produk-produk yang berasal dari AS dengan nilai mencapai US$60 miliar.

Tarif ini merupakan balasan atas kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kembali mengeluarkan tarif bea masuk impor sebesar 10 persen untuk produk asal China senilai US$200 miliar.

Baca Juga:   Menko Darmin Klaim Sudah Ada Maskapai Turunkan Tarif Tiket Pesawat