Terios 7 Wonders Borneo, Menembus Tapal Batas

REKANBOLA – Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, petualangan Terios 7 Wonders kali ini terbagi menjadi tiga etape. Pertama, Sumatera dengan tujuan Bengkulu, yang diselenggarakan pada April lalu.

Kini, rombongan sedang menjalani etape dua, yakni menjelajah Borneo. Titik awal yang dipilih adalah Pontianak, Kalimantan Barat, wilayah yang dikenal dengan sebutan Kota Khatulistiwa.

Tujuh unit All New Daihatsu Terios yang ditumpangi awak media, memulai perjalanan dari diler Astra Daihatsu Pontianak, Jumat 21 Juni 2019. Ada dua titik yang dituju, yakni replika rumah adat Dayak dan Tugu Khatulistiwa.

Usai bermain-main dengan kondisi tanpa bayangan di titik lintang nol derajat, rombongan melanjutkan perjalanan ke arah utara. Jalur yang dilalui berkelok-kelok, mirip dengan kondisi di Bengkulu.

PT Astra Daihatsu Motor melakukan hal yang cukup baik pada generasi terbaru mobil sport utility vehicle ini. Berkat adanya ubahan pada stabiliser roda, guncangan bisa diredam dengan level yang terbilang nyaman.

Jalur berbatu juga bisa diterabas dengan mudah, karena jarak terendah dari tanah mobil berkapasitas tujuh penumpang ini, mencapai 220 milimeter. Ditunjang pula oleh sistem penggerak roda belakang.

Setelah menghabiskan waktu lima jam di jalan, akhirnya tim tiba di Entikong, Sanggau. Lokasi ini sangat dikenal oleh para tenaga kerja asal Indonesia, karena menjadi titik perlintasan mereka saat hendak mengadu nasib di Malaysia.

Tampak petugas sibuk memeriksa kelengkapan dokumen, dan juga barang bawaan kami. Mobil juga ikut diperiksa, baik bagian luar maupun dalamnya.

Setelah dinyatakan aman, petualangan kembali dilanjutkan menuju Kuching, Sarawak. Ada dua titik yang dituju, yakni Kuching Statue dan Waterfront. Sebelum beristirahat, rombongan juga sempat mengunjungi Kelenteng Tua Pek Kong.

Baca Juga:   Romantis Bersama Vespa Super 150

Rumah ibadah itu adalah satu dari sedikit bangunan, yang tetap berdiri utuh usai kebakaran besar yang terjadi pada 1884. Kondisi kelenteng juga tetap utuh, saat Jepang menjatuhkan bom di kota tersebut pada 1941