The Countess : Sinopsis dan Review Film

Rekanbola – 

Film The Countess
Sutradara: Julie Delpy
Produser : Andro Steinborn, Christopher Tuffin, Julie Delpy
Penulis : Julie Delpy
Penulis : Julie Delpy, Daniel Brühl, William Hurt, Anamaria Marinca
Rilis : 9 Februari 2009

Saya suka Julie Delpy. Artis ini memiliki cara unik untuk memukau penggemarnya. Saya sendiri masih heran bagaimana saya menyukai filmnya yang berjudul before sunset (2004). Film ini hanya berisi kejadian setengah hari dan didominasi 2 pemain film. Mirip membaca novel tetapi hanya memiliki 2 tokoh dengan setting waktu kurang dari 6 jam. Isinya hanya percakapan 2 tokoh utamanya dan saya tahan menontonnya sampai selesai! Saya tidak sendiri karena film ini adalah seri kedua dan masih ada seri ketiga di tahun 2014 lalu. Before sunrise (1995), before sunset (2004), dan before midnight(2013)

Kali ini saya akan menulis sinopsis film The Countes dan reviewnya. Film ini termasuk menarik diikuti karena menjadi semacam biografi seorang wanita bangsawan Hungaria bernama Countess Elizabeth Báthory de Ecsed (1560-1614) yang sering dihubungkan dengan asal muasal vampir. Padahal ia bukanlah vampir seperti yang ada di film. Ia dikabarkan sebagai wanita yang terobsesi pada kecantikan sehingga mandi dengan darah para gadis. Berdasarkan diary yang diklaim asli miliknya, ia membunuh 650 gadis untuk itu. Dan film ini dibuat berdasarkan diary yan ditemukan.

*******

Dikisahkan di awal – melalui masa kecil Elizabeth (atau Erzsébet), bangsawan di masa itu meyakini diri mereka sebagai manusia superior yang pasti masuk ke surga. Tak perduli apapun perbuatan mereka, surga sudah pasti menjadi tempat mereka berlabuh setelah kematian. Para pendeta pun meyakini hal itu. Elizabeth kecil suda terbiasa melihat hukuman sadis penduduk di sekitar purinya. Menjadi bangsawan tuan tanah berarti memiliki seluruh tanah bagiannya beserta semua yang hidup di dalamnya. Ia disiapkan oleh ibunya untuk menjadi penguasa tuan tanah yang lebih besar dengan menjadi istri Ferenc Nadasdy. Ia bahkan dipaksa melihat kekasihnya dibunuh secara sadis dan anak laki-laki mereka dibuang.

Baca Juga:   MU Menang, Mourinho Kecam Jadwal Premier League

Singkat cerita, Elizabeth memiliki 4 orang anak dengan Ferenc. Kekayaan Ferenc meningkat sangat pesat karena upah memenangkan perang sampai-sampai kerajaan Hungaria berhutang padanya dan tak sanggup membayar. Ketika Ferenc meninggal, Elizabeth mewarisi seluruh kekayaan Ferenc. Ia mengantar keempat anaknya ke kota untuk belajar. Ia juga ke kerajaan untuk menagih utang kerajaan ke raja Mathias II. Meski wanita, Elizabeth menguasai 4 bahasa asing dan pandai bernegosiasi. Menarik sekali bagaimana ia menyindir kondisi para pendeta di masa itu.

Di pesta dansa, Elizabeth bertemu dengan seorang pemuda tanpan bernama Istvan. Istvan adalah anak dari bangsawan Turzo yang juga sepupu Ferenc. Count Turzo pernah melamar Elizabeth dan ditolak. Ada jodoh di antara Elizabeth dan Istvan. Mereka terlibat cinta yang mendalam. Perbedaan usia yang jauh tidak menyurutkan cinta mereka.

Tentu saja cinta mereka dihalangi oleh count Torzo. Count Turzo adalah pria rakus uang yang tega menjual anaknya. Ia sepakat dengan raja Mathias untuk menjatuhkan Elizabeth dan mengambil seluruh kekayaannya. Sebuah skenario dibuat bersama orang kepercayaan raja dan count Dominic Vizakna. Count Vizakna dikenal sebagai bangsawan aneh yang tidak pernah keluar jika ada matahari. Tugas count Torzo adalah menjauhkan Istvan dari Elizabeth, dan tugas count Vizakna membuka kekejian Elizabeth. Usaha mereka berhasil. Elizabeth yang merasa usia dan kulit berkerut adalah penghalang cintanya, menemukan sebuah cara tak lazim untuk meremajakan kulit. Awalnya adalah percikan darah pembantunya yang menurutnya membuat kulit wajahnya bersinar dan kerut tipis di wajahnya hilang. Ia selalu meminta darah gadis pembantunya itu untuk cuci muka hingga ia mati kehabisan darah. Terobsesi pada peremajaan kulit ini, ia mulai mandi dengan darah perawan. Ratusan gadis menghilang tanpa jejak karena mayatnya dibuang ke hutan untuk menjadi santapan binatang buas.

Baca Juga:   Messi Tunjuk Suksesornya di Barcelona

Setelah rumor berkembang sampai ke kerajaan, pihak kerajaan memiliki alasan untuk menghukum Elizabeth dan menyita seluruh kerajaannya. Karena ia bangsawan, ia tidak dihukum mati. Para pelayannya yang disiksa sampai mati. Ia hanya menjalani hukuman di penjara di menara tertutup (ingat kepercayaan bangsawan adalah penghuni surga dan manusia superior?). Elizabeth mati bunuh diri dan mayatnya dikuburkan di situ oleh warga yang membencinya.

*******

Film The Countest termasuk film sejarah yang diramu menjadi thriller psikologi. Film ini seperti beberapa film yang mengambil setting abad 15, mengisahkan kesuperioran para bangsawan kala itu. Mereka menjadi raja kecil di daerah kekuasaannya. Atau malah raja kecil karena gereja pun takluk pada mereka?
Meskipun film ini termasuk thriller, tapi tak banyak membuat kita terlonjak. Adegan keras dan sadisnya tak banyak terekspos namun kita paham maksudnya. Seperti ketika Elizabeth kecil membuktikan benih kehidupan, ia mengubur seekor anak ayam dan terkejut ketika menemukan banyak belatung di bangkai anak ayam tersebut. Atau adegan penyiksaan yang kita ketahui dari luka-luka saja. Mungkin karena film ini ingin mengambil sisi romantisnya. Romantis yang kelam. Lagi-lagi saya terpesona pada Julie Deply si Elizabeth Bathory.

Saya agak heran mengapa ia tetap memakai nama Bathory, bukan Nadasky, setelah menikah. Saya penasaran karena ini kisah nyata. Atau setidaknya sebuah kisah yang disadur dari sebuah diary – yang bahkan tak pernah diakui Elizabeth. (Diary ini disimpan di pusat arsip Budhapest). Nampaknya keluarga Nadasky tak mengakui Elizabeth pasca kejahatan yang didakwakan. Ia dikuburkan begitu saja di sekitar menara tempat ia di penjara. Bertahun kemudian, keluarga Bathory mengambil kerangkanya dan memindahkannya ke perkuburan keluarga.

Baca Juga:   Hasil Pertandingan Real Madrid vs AC Milan: Skor 3-1

 

(Sumber : sinopsisFilm)