Tim Jokowi Sebut Pernyataan Prabowo Soal Ojek Online Habit Pelecehan

Rekanbola – Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Maruf Amin, Inas Nasrullah Zubir menilai, pernyataan calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto soal banyaknya pemuda yang setelah lulus SMA memilih  menjadi sopir ojek, sebagai habit melakukan pelecehan.

“Habit biasa melakukan pelecehan, saya katakan saat ILC (Indonesia Lawyer Club) ini akan terus berlanjut,” ujar Inas dalam acara Apa Kabar Indonesia Pagi di tvOne, Sabtu, 24 November 2018.

Inas lantas menyebutkan beberapa kejadian sebelumnya, seperti dalam pertemuan PKS di sebuah hotel di Jakarta pada 2014, Prabowo menyebutkan bangsa ini bangsa goblok. “Dia bangsa Indonesia bukan,” ujarnya.
Kemudian, pernyataan soal elite di Jakarta maling semua. Lalu soal tampang Boyolali. “Sekarang pengemudi ojek, apa salahnya. Pengemudi ojek pahlawan ketenagakerjaan,” ujarnya.

Sekarang ini, menurut Inas, ojek online menjadi salah satu solusi dalam ketenagakerjaan. Bukan juga karena tidak ada lapangan kerja. Menurut dia, ada buruh yang pindah ingin pendapatan lebih baik karena dengar dari temannya penghasilan dari ojek online lebih besar. “Buruh dapat 2-3 juta, ojek online dapat 5-6 juta, pilih mana,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Badan Pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Faldo Maldini mengemukakan, hal yang diucapkan Prabowo bukan pelecehan tapi merupakan realitas di lapangan. “Tidak ada niat melecehkan,” ujarnya dalam acara yang sama.

Faldo mengakui, kontribusi perusahaan digital dan start up cukup besar terhadap ketenagakerjaan. Namun yang lebih menarik untuk didiskusikan adalah soal status ojek online, gaji mereka, asuransinya, jam kerjanya. “Saya enggak suka salah-salahan. Kita lihat substansinya,” ujarnya.

Menurut dia, negara gagal untuk hadirkan revolusi digital. Sekarang ini yang dibutuhkan yaitu pemerintah yang tidak gagap dengan dunia teknologi. “Mungkin pendapatan (ojek online) lebih baik, tapi jam kerjanya lebih parah,” kata Faldo.

Baca Juga:   KPU Berniat Baik, Cuma Miskin Komunikasi

Faldo mengemukakan, banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk membuat regulasi soal ojek online ini. “Banyak instrumen hukum, (seperti) Perpres. Koalisi kan mayorits, kenapa enggak dibuat,” ujarnya.

Menurut Inas, membuat Kepres atau  Perpres ada aturannya. Saat ini, pemerintah tengah mencari solusi soal ojek online. “Aturannya seperti apa harus digarap dulu dengan benar. Kami di DPR sudah bicarakan bagaimana revisi UU Lalu Lintas Jalan Raya,” ujarnya.

Sebelumnya, calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, mengaku prihatin dengan kondisi pemuda bangsa yang banyak memilih pekerjaan sebagai tukang ojek. Hal itu dikemukakan Prabowo dalam acara Indonesia Economic Forum 2018, Kamis, 22 November 2018.

Menurutnya, sampai ada meme yang menyinggung generasi muda Indonesia memilih kerja sebagai tukang ojek selepas lulus sekolah. Prabowo mengaku sedih dengan kondisi itu.