Tolak Usulan Pemerintah, Korban Gempa Lombok Ngutang Untuk Bangun Rumah

Rekanbola Sebagian korban gempa bumi di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), memutuskan untuk menggunakan kayu sebagai konstruksi dasar dari rumah mereka.

Kepala Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lalu Kanahan mengatakan, warganya bersikeras membangun kembali rumahnya dengan konstruksi dasar kayu karena sudah teruji tahan gempa.

“Kalau menurut pemerintah, yang tepat itu adalah Risha, tapi menurut kita ada yang lebih kuat, yang sampai saat ini masih terbukti kekuatannya pascagempa, kayu itu. Kalau Risha ini kan belum ada buktinya,” kata Kanahan, Kamis (25/10).

Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) merupakan teknologi anti gempa yang dipilih pemerintah untuk membangun rumah milik warga terdampak gempa di NTB.

Kanahan mengaku telah menyampaikan penolakannya terhadap Risha dalam sebuah pertemuan warga dengan pihak pemerintah.

“Dalam beberapa kali rapat, saya sering berbicara bahwa tujuan kita ini adalah membangun rumah tahan gempa. Dan yang sudah teruji kekuatannya sampai saat ini, cuma kayu, tapi tidak ada tanggapan,” ujarnya.

Tak kunjung mendapat tanggapan, lanjut Kanahan, para warga pun nekat membangun kembali rumahnya dengan konstruksi dasar kayu. Bahkan menurutnya, sudah lebih dari 50% pemilik rumah yang tergolong rusak berat yang melakukan hal ini.

“Kalau di sini, dari 193 yang rusak berat, 50% lebih sudah bangun pakai kayu. Bahkan ada yang rumahnya sudah jadi 100%. Mereka buat sendiri, dananya di hutang dulu dengan harapan diganti dari bantuan Rp50 juta itu,” ucapnya.

Selain karena janji tersebut, banyak warganya yang dikatakan tidak betah untuk terus berada di tenda pengungsian atau pun hunian sementara (huntara).

Dari pada menunggu realisasi pemerintah yang dirasakan lamban, warga memilih untuk mandiri dengan membangun rumahnya dari kayu.

Baca Juga:   Pembatasan Kendaraan Impor, Bagaimana Big Bike Honda di Indonesia?

“Sekarang ini cuaca sudah mulai tidak bagus, angin besar dan khawatir akan hujan lebat. Belum lagi karena punya anak kecil dan orang tua, jadi mau tidak mau mereka bangun sendiri, tunggu pemerintah, lama,” ucapnya.

Sama halnya dengan yang disampaikan Sunardi, Kepala Desa Sembalun Bumbung. Dia mengatakan bahwa banyak warganya yang kurang berminat membangun kembali rumahnya dengan gaya Risha (Rumah Instan Sederhana Sehat) atau Riko (Rumah Instan Konvensional).

“Di sini peminatnya kebanyakan pakai kayu. Lebih aman dan sudah teruji dari gempa-gempa sebelumnya, rumah kayu tidak ada yang rubuh,” kata Sunardi.

Bahkan dia juga mengatakan, hampir 40% warga yang rumahnya terverifikasi rusak berat sudah lebih dulu membangun secara mandiri. Dengan konstruksi dasar kayu, warganya membangun rumah dengan modal hutang.

“Kalau bahasanya di sini, ngutang dulu. Harapannya nanti akan diganti sama pemerintah dari Rp50 juta itu,” ujarnya.