UKM binaan LPEI tembus pasar Mesir di Trade Expo Indonesia 2018

REKANBOLA – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/ Indonesia Eximbank turut berperan aktif dalam acara Trade Expo Indonesia (TEI) 2018 yang diselenggarakan selama 5 hari (2428 Oktober 2018) di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Banten. Dalam acara ini, LPEI memboyong 44 UKM binaan yang merupakan peserta dari program Coaching Program for New Exporters (CPNE) dengan kesempatan terbuka untuk bertemu dengan calon pembeli.

“Melalui program CPNE ini, LPEI melakukan pendampingan, pelatihan packaging, bagaimana membuat desain yang baik, bagaimana memasarkan, juga bagaimana meng-handle order. Ini sudah kami lakukan sejak 2015, ujar Direktur Eksekutif LPEI, Sinthya Roesly dikutip keterangannya di Jakarta Jumat (2/11).

UKM dapat mengikuti program CPNE selama memenuhi klasifikasi dari LPEI, antara lain, memiliki produk berorientasi ekspor unggulan, memiliki staf minimal tiga orang, memiliki platform komunikasi berupa email, telah memiliki pasar baik domestik maupun luar negeri (indirect export), serta familiar dengan transaksi elektronik atau marketplace. Dalam acara ini, sejumlah UKM berhasil melakukan kerja sama dengan pembeli luar negeri.

PT Fahmi Bintang Andalas Bersaudara, salah satu UKM binaan LPEI berhasil menandatangani nota kesepahaman (MoU) ekspor dengan Arabia Intiqaa Trading SDN BHD asal Yaman senilai USD 50.000 atau Rp 760,85 juta. Nota kesepahaman tersebut menyepakati bahwa PT Fahmi Bintang Andalas Bersaudara akan memproduksi dan mengekspor material bangunan yaitu Boss Panel dari Indonesia ke Malaysia dan Mesir dengan jangka waktu lima tahun ke depan.

Boss Panel merupakan dinding panel ringan komposit yang diperkuat dengan fibercement sebagai kulit luar dan lapisan inti yang terdiri dari EPS dan Beton Agregat. Boss Panel dikenal lebih ringan 65 persen dibandingkan batu bata konvensional dan memiliki kelebihan anti gempa serta lebih ramah lingkungan. Kerja sama ini akan berjalan mulai Desember 2018, sedangkan kontrak penjualan akan diperjelas dan mulai beroperasi dalam dua bulan mendatang.

Baca Juga:   Konsumsi meningkat, KKP dorong perluasan ekspor Ikan Lele

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Enggartiasto Lukita mengatakan, penyelenggaraan TEI 2018 berjalan sukses. Selama lima hari, transaksi yang diperoleh mencapai USD 8,45 miliar atau setara Rp 126,77 triliun. Nilai ini meningkat lima kali lipat dari target yang telah ditetapkan sebelumnya oleh pemerintah.

Penghitungan masih terus berjalan dan dipastikan hasilnya akan bertambah,” ujar Enggartiasto Lukita.

Nilai transaksi TEI 2018 terdiri dari transaksi investasi sebesar USD 5,55 miliar, transaksi pariwisata sebesar USD 170,5 juta, dan transaksi produk dengan total USD 2,73 miliar. Adapun rincian transaksi produk tersebut terdiri atas transaksi produk barang dan jasa masing-masing sebesar USD1,42 miliar dan USD 1,31 miliar. Transaksi produk barang berasal dari transaksi nota kesepahaman (MoU) misi pembelian produk sebesar USD 811 juta, transaksi langsung saat pameran USD 470,65 juta, misi dagang lokal USD 85,6 juta, business matching USD 51,29 juta, serta Pameran Kuliner dan Pangan Nusantara USD 680 ribu.

Enggar mengungkapkan, produk-produk yang banyak diminati para buyers pada TEI kali ini adalah produk-produk teknologi dan informasi, makanan olahan, produk-produk kimia, minyak kelapa sawit mentah (CPO), produk-produk perikanan, serta produk kertas. Sementara itu, negara-negara dengan nilai transaksi perdagangan tertinggi secarakeseluruhan yaitu Arab Saudi, Jepang, Inggris, Mesir, dan Amerika Serikat.