5 Pemikiran Bijak Ini Cuma Dipahami Anak Perempuan Pertama di Keluarga

Rekanbola.com – Menjadi seorang anak bukanlah hal yang bisa kami hindari. Bahkan kami pun bukan zat yang Maha Pengatur, di urutan keberapakah kami di dalam keluarga. Banyak yang bilang, “enak ya jadi anak pertama, apa apa udah dapet duluan, gak pernah dapet barang sisa atau bekas?”.

Ya, begitulah setidaknya sepersekian pikiran orang lain terhadap anak pertama di dalam sebuah keluarga.

Namun banyak hal yang tidak orang lain tahu, saat anak pertama di dalam keluarga beranjak dewasa. Banyak pikiran yang muncul dan seolah terus bergumul untuk diselesaikan satu persatu. Ini bukan tentang suka dan duka, sebab bagi kami semua adalah anugerah yang diberikan Tuhan. Kami tetap anak yang ingin menjadi sesuatu yang berguna untuk keluarga.

Sudahkah kami mengalah untuk semua yang bahkan tidak kami inginkan di dalam hidup?

unsplash.com

Menjadi anak pertama secara otomatis membuat kamu akan lebih banyak berlapang dada terhadap apapun yang terjadi. Kamu akan lebih banyak mengalah di dalam hidupmu. Kamu seolah diciptakan dan terlatih untuk bersabar dalam banyak hal. Tentu saja, karena ada banyak hal yang harus kamu bagi dengan semua keluarga, terutama adik-adikmu.

Bukan membuatmu merasa terasingkan, hanya kamulah yang memang banyak diharapkan mampu menjadi contoh bagi adikmu. Hanya kamulah yang bisa menjadi pelindung bagi mereka. Kamulah yang akan membantu kedua orang tua dalam mengasuh dan mendidik adikmu.

Sudah cukup cerdaskah kami untuk membantu adik mengerjakan Pekerjaan Rumah mereka?

unsplash.com

Tuntutan menjadi anak yang cerdas, pandai dan berprestasi bukanlah hal yang baru untuk anak pertama. Banyak hal yang menjadi tuntutan bagi kamu yang juga memiliki adik. Tidak ada salahnya saat kedua orang tua mengahrapkan kamu menempuh pendidikan tinggi, menggapai prestasi yang diidam-idamkan banyak orang dan bahkan bersekolah di tempat yang hebat pun seolah harus kamu lakukan.

Tidak salah, sebab sekali lagi, kamulah orang pertama yang akan ditiru adik-adikmu nantinya. Kamu adalah contoh yang akan mereka ikuti saat mereka beranjak dewasa nantinya. Kamulah yang akan menuntun dan mengarahkan saat adikmu mulai hilang dan salah arah.

Apakah keluarga akan bangga dengan yang kami lakukan saat ini?

allkpop.com

Sudahkah yang saya lakukan sesuai dengan yang diinginkan keluarga? Apakah yang saya lakukan membuat mereka bangga? Atau justru membuat mereka malu?

Seolah memang tidak ada karir yang benar-benar ideal bagi setiap orang. Akan ada saja obrolan kanan kiri yang membuat orang tuamu panas dan menuntutmu untuk menjadi seseorang yang mereka banggakan nantinya. Bahkan tentang karir kamu harus berjuang untuk meyakinkan mereka, bahwa apa yang kamu lakukan ini bukan sekedar untuk kebahagiaanmu, tapi juga akan membuat mereka bangga.

Tidak melulu tentang karir, sebagai anak pertama pastinya akan terbersit pikiran “Apakah kami sudah cukup membantu keluarga dalam banyak hal? Apakah kami hanya merepotkan dan tidak banyak meringankan beban?” Ya, setidaknya kami tidak hidup dalam diam. Pikiran itulah beberapa diantaranya.

Bagaimanakah harusnya kami bersikap agar tidak membuat kecewa?

dramafever.com

Menjadi anak pertama membuat kami harus pandai bersikap. Kami harus pandai memilih dan memilah mana yang bisa kamu lakukan dan mana yang harus benar-benar kami hapus dari hidup kami. Meski kami suka melakukan hal itu, tapi apakah lingkungan, apakah keluarga dan apakah adik-adik kami menerimanya? Jika tidak, maka bisa jadi kami harus menghilangkan keinginan untuk melakukan hal itu.

Ya, kami memiliki kemampuan untuk menahan banyak hasrat di dalam diri kami. Menahan impian yang berujung ambisi kami sendiri. Kami bahkan akan sering lupa dengan setiap impian kami yang tidak berpotensi untuk dibanggakan.

Kapan kami bisa menjadi seorang yang bebas menentukan hidup kami sendiri?

koreanwaveindo.com

Sampai pada akhirnya yang kami pikirkan adalah “Kapan saatnya kami bebas menentukan apa yang ingin kami lakukan sebagai seorang manusia, bukan anak pertama atau anak kesekian”

Ya, kami sering mempertanyakan itu di dalam diri kami sendiri. Apakah akan datang saatnya kami tidak perlu takut apa yang kami lakukan tidak bisa dicontoh oleh adik-adik kami. Apakah yang kami lakukan sudah membuat keluarga bangga memiliki kami. Dan apakah peran kami sebagai anak pertama sudah dianggap berhasil oleh keluarga dan lingkungan.

Recommended

 

Facebook Comments