Argentina Hanya Berkaca Pada Lionel Messi

REKANBOLA – Apa yang dipentaskan Lionel Messi hadapi Islandia, seakan menegaskan betapa berat beban yang dipikulnya atas ekspektasi tinggi di timnas Argentina.

Tetap jadi favorit juara dunia kendati nyaris tak lolos ke Piala Dunia 2018, mayoritas khalayak sepakbola sepertinya hanya memandang Tim Tango lewat kebesaran Lionel Messi.

Khalayak mungkin lupa bahwa federasi sepakbola Argentina tengah direvolusi, Jorge Sampaoli baru setahun terakhir jadi pelatih kepala, dan para pilar timnas masih terjangkit derita langka akibat kalah beruntun di tiga final turnamen akbar.

 

Baca Juga :

 

Semua orang bagai sepakat bahwa sederet masalah berat tersebut akan langsung tersolusikan dengan kehadiran Messi. Seperti saat La Pulga torehkan hat-trick di Ekuador, untuk pastikan Argentina lolos dari lubang jarum ke Rusia.

Ironisnya, sikap itu juga dianut oleh internal tim Argentina. Dunia mereka hancur ketika Messi sempat putuskan pensiun, tapi lantas lakukan kesalahan besar terhadap caranya menyambut kembali sang megabintang

Entah itu Edgardo Bauza hingga digantikan Sampaoli yang menjabat sebagai pelatih kepala, semua membangun taktik dengan Messi sebagai porosnya. Normal, karena jika Anda memiliki seorang Messi di dalam tim, Anda tidak bisa tidak menjadikannya sebagai pusat permainan.

Namun kesalahan besar Bauza dan Sampaoli adalah mereka tidak memberikan celah untuk hadirkan alternatif, ketika Messi ada di hari buruknya. Lebih buruk, paham itu bagai terdoktrin di kepala para pemain lainnya. Sederhananya, hasil Argentina akan sepenuhnya bergantung pada performa Messiah.

Ketergantungan yang tidak pernah sebegitu besarnya terbentuk, tatkala Alejandro Sabella dan Gerardo “Tata” Martino nyaris membawa Argentina menjuarai Piala Dunia dan Copa America kemarin.

Baca Juga:   Harga minyak dunia naik dipicu ketegangan geopolitik Iran

Segalanya terpapar begitu jelas sejak babak kualifikasi. Messi merupakan satu-satunya penggawa Argentina yang masuk papan skor di laga kompetitif internasional, sejak November 2016 lalu hingga sebelum Piala Dunia 2018.

Semakin tegas terlihat sebagaimana Argentina — secara tidak mengejutkan — ditahan imbang 1-1 oleh Islandia di partai pembuka Piala Dunia 2018, dengan Messi ada di hari buruknya.

Tampil 90 menit, Messi jadi pemain yang paling aktif membahayakan gawang Islandia lewat 11 tembakan ke arah gawang. Dia juga jadi pemain kedua dalam pertandingan, yang paling banyak lakukan sentuhan (115 kali) serta operan (71 kali).

Sepanjang laga Sampaoli benar-benar membuat aliran bola cuma tertuju pada Messi. Dia mengabaikan alternatif untuk lepaskan umpan silang ke penyerang utama atau bahkan sedikit membebaskan pemain “cameo-nya” lakukan tembakan spekulatif.

Dan seperti dijelaskan sebelumnya, segalanya berakhir hampa karena Messi sedang ada di hari buruknya plus dikawal oleh sepuluh pemain Islandia. Hanya tiga tembakan tepat sasaran mampu dihasilkannya, akurasi operannya cuma menyentuh 84,5 persen, dan tentu saja gagal mengeksekusi hadiah penalti yang diberikan.

Banyak pihak kemudian membandingkan beban yang dipikul Messi, tidak berbeda dengan rival abadinya, Cristiano Ronaldo, di Portugal. Messi pun direndahkan, karena Ronaldo mampu memikulnya dengan lebih baik. Apalagi di laga pembuka Piala Dunia 2018 ini, di mana sang rival torehkan hat-trick.

Namun dengan segala hormat, Portugal tidaklah sebesar Argentina. Pelatih Seleccao, Fernando Santos, juga tak membuat timnya bergantung 100 persen pada Ronaldo. Ingat, mereka menjuarai Euro 2016 lalu dengan CR7 hanya bermain selama 25 menit di final.

Faktanya adalah Messi kini sudah berada pada titik di mana dia memikul tanggung jawab yang terlampau berat untuk Argentina. Kualitasnya memang luar biasa, dia mungkin pesepakbola terbaik dalam sejarah, tapi sosoknya tetaplah manusia yang performanya di atas lapangan bisa terganggu akibat faktor non-teknis.

Baca Juga:   Persija Kalah Telak, Teco: Pemain-Pemain Kami Kelelahan

Argentina harus cepat menyadari bahwa mereka tak bisa lagi berkaca hanya pada Messi seorang. Masih banyak pemain berkualitas lain di dalam skuat, yang bisa signifikan berkontribusi terhadap tim dan dilepaskan dari doktrin Messidependencia.

Kroasia dan Nigeria yang terasa lebih berat, bakal jadi jawaban apakah Argentina sanggup mengikis beban berat yang dipikul Messi. Jika gagal, bukan tak mungkin mereka akan mengulang tragedi di Piala Dunia 1994 dan 2002 ketika terlampau bergantung pada Diego Maradona dan Gabriel Batistuta.

 

(Sumber : GOAL.COM)