Atas Permintaan Arab Saudi, AS Kirim Pasukan Tambahan ke Kawasan Teluk

REKANBOLA – Amerika Serikat mengumumkan pengiriman pasukan tambahan ke kawasan Teluk menyusul serangan-serangan ke fasilitas minyak Arab Saudi.

Pengiriman pasukan ini diumumkan hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan sanksi-sanksi baru terhadap Iran, yang dituduh mendalangi serangan-serangan ke fasilitas minyak Saudi.

Keputusan untuk mengirimkan pasukan tambahan tersebut disetujui oleh Trump pada Jumat (20/9) waktu setempat. Departemen Pertahanan AS atau Pentagon menyatakan, pengiriman pasukan ini dilakukan atas permintaan Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE).

Pentagon menyatakan pengerahan pasukan dalam jumlah sedang ini bersifat defensif. Tidak disebutkan lebih detail mengenai jumlah pasukan.

“Sebagai respons atas permintaan kerajaan, presiden telah menyetujui pengerahan pasukan AS, yang akan bersifat defensif dan terutama fokus pada pertahanan udara dan rudal,” kata Menteri Pertahanan AS Mark Esper seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (21/9/2019).

“Kami juga akan bekerja untuk mempercepat pengiriman peralatan militer ke kerajaan Arab Saudi dan UAE untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mempertahankan diri,” imbuhnya.

Sebelumnya, Pentagon juga telah berencana mengirimkan peralatan antirudal, drone (pesawat nirawak) dan lebih banyak jet-jet tempur ke Teluk Persia. Washington juga mengkaji untuk menempatkan sebuah kapal induk di wilayah tersebut untuk batas waktu yang tidak ditentukan.

Fasilitas minyak Arab Saudi yang bernama Saudi Aramco diserang drone pada Sabtu (14/9) dini hari waktu setempat. Serangan itu memicu kebakaran di dua lokasi berbeda di dalam kompleks fasilitas minyak Saudi.

Serangan tersebut menargetkan fasilitas minyak di Abqaiq dan Khurais, dua fasilitas utama Aramco yang terletak di wilayah Saudi bagian timur.

Fasilitas Abqaiq yang berlokasi 60 kilometer sebelah barat daya kantor utama Aramco di Dhahran, merupakan lokasi pabrik pengolahan minyak terbesar milik Saudi Aramco. Sedangkan fasilitas Khurais yang berjarak 250 kilometer dari Dhahran, menjadi lokasi ladang minyak utama Aramco. Serangan itu menyebabkan produksi minyak kerajaan tersebut berkurang hingga separuhnya.

Baca Juga:   Vicky Prasetyo Jadi Caleg PKPI untuk DPRD Jabar

Kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone ke fasilitas-fasilitas minyak Saudi tersebut. Namun pemerintahan Trump menyimpulkan bahwa serangan-serangan itu melibatkan rudal-rudal penjelajah dari Iran. Pemerintah Iran telah membantahnya.