BEI Beri Tanda Khusus ke Perusahaan Bermasalah

Rekanbola – PT Bursa Efek Indonesi (BEI) resmi memberlakukan program I-Suite atau pemberian tanda khusus atau ‘tato’ kepada perusahaan tercatat yang bermasalah. Program diberlakukan untuk memberikan informasi dan kenyamanan kepada investor di pasar modal sebelum bertransaksi.

“Notasi khusus pada perusahaan ini menandakan going concern perusahaan untuk menjadi perlindungan investor,” kata Direktur Utama BEI Inarno Djayadi di BEI, Jumat (28/12).

Perusahaan yang diberi tanda khusus tersebut nantinya bisa dilihat dalam website resmi BEI pada kolom notasi khusus. Mengutip laman resmi BEI, ada tujuh notasi khusus yang diberlakukan BEI.

Setiap notasi khusus memiliki deskripsi masalah yang dialami oleh perseroan. Untuk tanda B, bermakna perusahaan sedang dalam permohonan pernyataan pailit.

Untuk tanda M, mempunyai makna adanya permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada perusahaan tersebut. Untuk tanda S, artinya laporan keuangan terakhir perusahaan menunjukkan tidak ada pendapatan usaha.

Selanjutnya, E yang bermakna laporan keuangan terakhir menunjukkan ekuitas negatif dan A yang bermakna adanya Opini Tidak Wajar (Adverse) dari Akuntan Publik (AP). Sementara itu untuk tanda D, bermakna adanya opini tidak menyatakan pendapat (disclaimer) dari akuntan publik, dan L yang bermakna perusahaan tercatat belum menyampaikan laporan keuangan.

Terhitung hingga Jumat (28/12) pukul 15.00 ada 35 perusahaan yang mendapatkan notasi khusus. Tak hanya satu notasi, bursa juga memberikan dua notasi khusus pada perusahaan yang bermasalah.

Adapun 35 perusahaan yang diberi tanda khusus tersebut. Perusahaan tersebut meliputi; PT Akbar Indo Makmur Stimec Tbk (AIMS.S), PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA.ML), PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX.E), PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk (APOL.E), PT Argo Pantes Tbk (ARGO.E), PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk (BIMA.E), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR.E), PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN.EL), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL.ED), dan PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk (CANI.E).

Baca Juga:   Harga Bawang Masih Tinggi, Kemendag Diminta Gencarkan Operasi Pasar

Selain itu, ada PT Cakra Mineral Tbk (CKRA.DS), PT Air Asia Indonesia Tbk (CMPP.E), PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO.E), PT Century Textile Industry Tbk (CNTX.E), PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM.L), PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL.E), PT Eterindo Wahanatama Tbk (ETWA.E), PT Global Teleshop Tbk (GLOB.E), PT Golden Plantation Tbk (GOLL.L), PT Evergreen Invesco Tbk (GREN.L).

Lalu adapula PT Panasia Indo Resources Tbk (HDTX.E), PT Leo Investments Tbk (ITTG.S), PT Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW.E), PT ICTSI Jasa Prima Tbk (KARW.E), PT Modern Internasional Tbk (MDRN.E), PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN.EL), PT Onix Capital Tbk (OCAP.E), PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY.E), PT Steady Safe Tbk (SAFE.E), PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP.E), PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU.L), PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI.ME), PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO.E), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP.E), dan PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA.E).