Berburu bantuan sampai ujung pelabuhan

Rekanbola – Di pinggir dermaga, dua perempuan berkerudung berdiri. Berpegangan tangan. Dengan wajah penuh harap. Melihat ke arah kapal besar di depan mereka tengah bersandar setelah berlayar dari Makassar.

Emi Talim dan Diana Suliha. Nama dua perempuan itu. Usia mereka beda setahun. Emi berkerudung hijau lebih muda. Perempuan 41 tahun itu mengaku datang dari Labuan Panimba. Sebuah desa di Kecamatan Tawaeli, Kabupaten Donggala.

Mereka rela menempuh jarak hampir 10 kilometer menuju Pelabuhan Pantoloan, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Semua rela dilakukan. Demi mendapat bantuan berupa pakaian hingga makanan.

Belum ada bantuan logistik sama sekali masuk ke wilayah mereka. Sejak hari pertama kejadian gempa menimpa tiga wilayah di Sulteng. “Belum ada bantuan ke tempat kami,” ucap Emi kepada rekanbola, Kamis kemarin.

Kabupaten Donggala menjadi kawasan lumayan parah tertimpa bencana. Di susul Kabupaten Sigi dan Kota Palu. Bahkan di Palu sampai terjadi tsunami di sepanjang garis pantai wilayah Palu Utara.

Dikabarkan masih banyak wilayah di Donggala masih terisolir akibat guncangan gempa. Sehingga sulit dijangkau untuk mendapatkan pasokan logistik. Termasuk di wilayah Emi dan Diana. Rumah mereka hancur.

Untuk mendapat logistik langsung di pelabuhan tidak mudah. Mereka harus bersaing dengan para pengungsi lainnya. Kebanyakan para pria menunggu logistik itu.

Saingan Emi dan Diana berat. Wajah mereka seperti orang ketakutan. Sambil saling memegang tangan erat-erat.

“Kami berharap sekali bisa dapat logistik hari ini,” ujar Diana. Perempuan berkerudung oranye itu tetap optimis.

Sudah tiga jam mereka menunggu di pinggir dermaga. Datang sejak pukul 12 siang waktu setempat. Kepanasan dan haus. Begitu yang mereka rasakan. Ditambah hari itu terik matahari sedang sangat menyengat.

Baca Juga:   Total HG Punya 42 Ekor Ikan Arapaima Predator

Kapal sepanjang lebih kurang 70 meter bernama Tonasa Line XVIII itu akhirnya merapat ke dermaga. Membawa pelbagai logistik dari Makassar. Bantuan itu berasal dari banyak pihak. Mulai perusahaan hingga lembaga penyalur bantuan.

Suasana di pinggir dermaga mulai ramai. Para pengungsi pencari bantuan semakin mendekat ke kapal. Meminta langsung kepada relawan untuk memberikan bantuan.

Emi dan Diana tak mau ketinggalan. Mereka memberanikan diri. Masuk ke dalam kerumunan. Ikut meminta bantuan. “Saya tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk dapat logistik,” kata Emi.

Kerumunan itu dibubarkan tentara. Mereka meminta para pengungsi tidak mendekati kapal. Sambil diberikan imbauan, agar para pengungsi langsung datang ke kantor Komandi Resor Militer (Korem) 132 di Kota Palu.

Penyaluran satu pintu

Demi mencegah adanya kerusuhan, memang di sepanjang Pelabuhan Pantoloan disebar banyak tentara. Mulai dari pintu masuk hingga pinggir dermaga. Mereka sengaja diterjunkan untuk menghindari tindak penjarahan dilakukan para pengungsi seperti terjadi sebelumnya.

Seorang tentara bernama Kamaruddin sampai mengeluarkan nada cukup keras memberi imbauan kepada para pengungsi pencari logistik. Dia meminta masyarakat langsung menuju kantor Korem 132 untuk mendapat logistik.

“Semua satu pintu. Ambil bantuan harus ke kantor Korem,” tegasnya.

Bukan sekedar datang. Kata dia, para pengungsi juga harus didampingi kepala desa maupun kepala dusun. Di sana nantinya akan ditemui anggota Babinsa dari tiap wilayahnya untuk memastikan bahwa bantuan di terima sudah sesuai.

Emi mendekati Kamaruddin. Mencoba bertanya. Dia mengeluhkan bahwa kepala desanya tengah sakit. Tidak bisa diajak ke kantor Korem di Palu. Ditambah jarak tempat pengungsian menuju lokasi lumayan jauh. Mencapai hampir 32 kilometer.

Mereka mengaku tiap malam tidur di pengungsian. Bersama 10 kepala keluarga lain di desa mereka. Para tetangganya itu kini mengharapkan segera datangnya bantuan.

Baca Juga:   Bawaslu Makassar Periksa Ketua RT Sebar Rekaman Suara Diduga Lurah Ajak Pilih Jokowi

Untuk masalah ini, Kamaruddin menyarankan agar membuat surat keterangan dengan tanda tangan sang kepala desa. Surat itu nanti dibawa ke kantor Korem dan akan ditemui Babinsa untuk memastikan keaslian surat keterangan.

Merasa paham. Emi dan Diana bergegas kembali ke pengungsian. Berjalan cepat-cepat dari pinggir dermaga menuju pintu keluar. Jaraknya lumayan jauh. Di depan pagar pintu masuk, mereka sudah ditunggu kerabat dengan menggunakan sepeda motor.

Sebelum bergegas, Kamaruddin menyarankan dua perempuan itu agar menggunakan mobil untuk mengangkut bantuan bencana di Korem. Itu cara lebih cepat dan efektif. Karena keterbatasan petugas membuat penyaluran logistik belum maksimal.

Bantuan pemerintah dan asing

Bantuan logistik tiap hari berdatangan ke Palu. Tiap kiriman bantuan harus dilaporkan ke markas Korem 132. Di sana mereka akan didata.

Seperti bantuan diangkut kapal Tonasa Line XVIII. Satu per satu dipindahkan ke salam truk besar. Dari situ para sopir langsung membawa menuju markas Korem 132.

Sejauh ini sudah banyak bantuan disalurkan. Termasuk dilakukan kementerian sosial. Mereka mengaku sudah menyalurkan bantuan bagi korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala mencapai Rp 37 miliar.

Bantuan dalam pelbagai bentuk. Terutama bahan makanan. “Sampai sekarang kami sudah menyalurkan makanan sudah capai Rp 37 miliar,” ujar Staf Ahli Menteri Sosial Bidang Teknologi Kesejahteraan Sosial, Sahabuddin.

Bantuan dari luar negeri juga sudah mulai masuk. Walau demikian, pemerintah tetap menolak menyebut gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi sebagai bencana nasional.

Dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terbaru, evakuasi korban gempa dan tsunami melanda SulTeng terus bertambah. Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah mencapai 1.424 orang. Sebanyak 1.047 jenazah telah diidentifikasi dan dimakamkan massal.

Baca Juga:   Jalan Desa Bandar Pulau Kupak-kapik Dilintasi Truk Kebun, PTPN III KBDSL Dituding Tak Peduli