Cegah Massa Blokir Akses ke Bandara Hong Kong, Polisi Tembakkan Gas Air Mata

REKANBOLAHong Kong – Polisi Hong Kong mencegah demonstran antipemerintah memblokir akses menuju Bandara. Polisi menembakkan gas air mata di distrik Mong Kok, kota padat penduduk yang dikuasai China.

Dilansir Reuters, Sabtu (7/9/2019), polisi memeriksa tiket dan paspor untuk memastikan hanya penumpang pesawat yang pergi ke bandara. Ini dilakukan untuk menghindari kaos seperti akhir pekan lalu. Saat itu para aktivis memblokir jalan, melemparkan puing-puing ke jalur kereta api dan menghancurkan stasiun kereta bawah tanah di kota baru terdekat Tung Chung.

Pada bulan lalu, para demonstran juga menduduki tempat kedatangan, menghentikan dan menunda penerbangan di tengah serangkaian bentrokan dengan polisi.

Lebih dari tiga bulan protes telah melumpuhkan sejumlah bagian dari Hong Kong di tengah bentrokan jalanan antara pengunjuk rasa dan polisi yang meresponsnya dengan gas air mata hingga water cannon. Selain itu, penangkapan pengunjuk rasa dengan kekerasan telah menarik perhatian dunia internasional.

Sebelumnya diberitakan, para polisi antihuru-hara dikerahkan di berbagai penjuru Hong Kong hari ini untuk menggagalkan rencana para demonstran menargetkan bandara dalam aksi terbaru mereka. Ini akan menjadi aksi massal pertama sejak pemimpin Hong Kong mengumumkan pencabutan resmi RUU ekstradisi, yang menjadi pemicu aksi unjuk rasa selama berbulan-bulan.

Di media-media sosial banyak beredar seruan agar para demonstran menargetkan bandara internasional Hong Kong dalam aksi mereka hari ini. Aparat polisi dalam jumlah besar ditempatkan di terminal-terminal bus, kapal feri dan stasiun kereta di Hong Kong. Para polisi tersebut melakukan penggeledahan tas warga atau memeriksa identitas mereka.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (7/9), sejumlah layanan kereta dan bus tujuan bandara dibatasi sebagai upaya untuk mengurangi kemungkinan para demonstran dalam jumlah besar mencapai bandara.

Baca Juga:   Awkarin Buat Gerakan Bersih-Bersih Usai Demonstrasi di Kawasan Senayan

Pada Rabu (4/9) lalu, pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengejutkan banyak pihak dengan mengumumkan pencabutan RUU ekstradisi ke China daratan yang telah menuai kontroversi dan memicu aksi-aksi demo besar-besaran. Pencabutan RUU tersebut merupakan salah satu tuntutan para demonstran. Namun pengumuman Lam ini dianggap sangat terlambat oleh sebagian demonstran yang telah berdemo selama sekitar 14 pekan. Lebih dari 1.100 orang telah ditangkap dalam aksi-aksi demo yang juga diwarnai bentrokan dengan aparat tersebut.