Cerita Prabowo Awal Tahu Ada Kebocoran Kekayaan RI

REKANBOLA – Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menceritakan salah satu contoh kebocoran kekayaan Indonesia di hadapan warga dalam kegiatan konsolidasi nasional Aliansi Pencerah Indonesia (API) bersama eksponen Muhammadiyah di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat. Kebocoran itu diketahuinya sejak menjadi pimpinan perusahaan kelapa sawit seusai pensiun dari TNI pada tahun 1998.

“Jadi saya jadi pengusaha waktu itu, saya dipercaya memimpin perusahaan kelapa sawit. Jadi saya mengerti industri kelapa sawit, dengan segala permainan-permainan nya, karena itu dapat pencerahan lagi saya, boleh saya cerita fenomena saya ini,” kata Prabowo, Minggu (3/3).

Dia menjelaskan bila seseorang ingin membangun suatu perkebunan kelapa sawit harus melakukan beberapa tahapan. Mulai dari meminta izin ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab), lalu ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan lanjut ke Pemerintah Pusat.

Saat itu, kata dia, ketika ke pemerintah pusat, pengusaha tersebut harus meminta izin ke Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan. Setelah itu barulah pengusaha itu mendapatkan sertifikat hak guna usaha (HGU).

“Begitu dia dapat dengan HGU dia dapat kredit, di sini sudah mulai bocor, kenapa ? Karena untuk buka lahan itu ada indeks. Saya enggak tahu sekarang, waktu saya itu indeks sekitar USD 3.000 per hektar, 4.000 per hektar. Padahal ongkos benar-benar untuk buka hutan waktu itu enggak sampe 2.000. Zaman saya dulu. Prabowo tidak tahu persis indeks sekarang,” papar dia.

Prabowo memperhitungkan bila si pengusaha tersebut memiliki izin HGU nya hingga 100 ribu hektar. Sehingga negara telah memiliki keuntungan yang besar sebelum pohon kelapa sawitnya di tanam.

“Yang celaka itu adalah begitu diusung semua, belum satu pohon ditanam sebagian keuntungan itu sudah ada dan itu dibuat apa, dikirim ke luar negeri. Karena apa, karena Indonesia liberal, kita sekarang devisa bebas kita lebih liberal dari mbahnya liberal,” ucapnya.

Baca Juga:   Realme 3 Pro Meluncur Bareng Realme 3?

Tak hanya itu, Prabowo menyebutkan apalagi bila adanya pabrik pengelolaan kelapa sawit yang telah berkembang.

“Uang darimana, dari pemerintah lagi. Nanti di mark up lagi pabrik yang harganya 10 juta dollar dibikin 20 juta dollar, untung lagi,” jelasnya.