Di Tubuhku Masih Banyak Luka tapi Aku Bisa Baik-Baik Saja

REKANBOLA – Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain.

Tidak Ada yang Hilang dari Masa Lalu

Memaafkan memang tidak membuat segalanya kembali seperti semula. Jika ada yang telanjur sakit, rasa dan bekasnya mungkin akan tetap ada sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Jika ada sesuatu yang telanjur hilang, mungkin justru tidak akan pernah kembali. Jika ada yang telanjur rusak, mungkin selamanya tidak akan pernah bisa diperbaiki. Memaafkan adalah urusan yang lain.

Aku adalah perempuan berusia hampir dua puluh sembilan tahun. Aku belum menikah. Dalam rentang itu, ada banyak hal yang membuatku benci, kecewa, dan marah. Aku banyak mengalami kegagalan, kekalahan, dan beberapa peristiwa buruk yang membuat hidup menjadi terpuruk dan hancur.

Kuliah yang Gagal

Aku pernah mengundurkan diri dari kampus setelah menjalani kuliah selama tujuh tahun. Dengan kata lain, aku drop out karena masa studi sudah habis. Sejak kecil aku terkenal pintar. Aku dari keluarga dengan latar belakang yang baik menurut standar masyarakat kebanyakan. Bapakku pensiunan guru, salah seorang kakakku juga guru dengan status PNS. Aku anak terakhir yang digadang-gadang menutup kisah dengan indah nan membanggakan. Namun aku menghancurkan harapan itu.

Hidupku yang terlalu lurus dan kurang tertempa menjadikanku sosok yang mudah ambruk oleh hambatan. Mungkin juga karena pola asuh orang tua. Bapak ibuku dulunya hidup dalam kondisi susah. Karena pernah merasakan hidup menderita, mereka tidak ingin anaknya merasakan hal yang sama. Mereka tidak mendorong anaknya untuk bertarung di luar. Ditambah lagi, dulunya aku adalah seorang introvert akut yang terlalu nyaman dengan zona kesendirian. Aku kurang banyak berkenalan dengan masalah.

Baca Juga:   Persebaya Harus Kehilangan Robertino Pugliara

Aku gagal menyelesaikan skripsi. Menurut selentingan, dosen mengatakan bahwa aku ini adalah sosok yang terlalu idealis. Namun menurutku bukan itu akar masalahnya. Di luar sana, banyak orang idealis sampai tua dan mereka baik-baik saja. Kesalahanku adalah, aku kurang punya konsep yang baik tentang diri. Aku minderan, gampang menyerah, terlalu terpengaruh oleh pendapat orang, dan kurang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Aku sadar itu setelah aku melalui depresi yang panjang. Aku pernah hampir gila.

Menghadapi Banyak Masalah Sekaligus

Dalam keadaan kacau dan lemah, aku harus menghadapi banyak masalah sekaligus. Keponakanku juga depresi. Dia tertekan oleh kelakuan bapaknya yang keras. Di usianya yang baru dua belas tahun, dia menjadi sosok yang beringas dan sulit dikontrol. Dia tidak mau sekolah selama beberapa bulan, sering kabur, pernah mengancam pakai pisau, membakar korden, pernah mendorong kepala bapakku ke tembok, dan masih banyak hal lain yang mengerikan. Kami semua pernah dibuat menangis dan tertekan olehnya selama sekitar dua tahun. Aku yang paling sering menjadi korban karena aku paling dekat dengannya selain ibunya. Dia sering mengancamku untuk menuruti kemauannya. Jika tidak dituruti, dia akan membuat kekacauan dan menyakitiku secara fisik. Mau tak mau aku dijadikan tumbal oleh orang rumah. Aku harus menuruti kemauannya.

Kondisi demikian membuatku tidak bisa begitu saja menerima orang lain masuk ke dalam kehidupanku. Di sisi lain, aku sejujurnya sedang butuh pertolongan. Aku tidak ingin menyeret terlalu banyak orang dalam kekacauan hidupku. Ada lelaki menyukaiku, namun aku menolaknya. Padahal bisa saja kondisiku membaik jika aku menerimanya. Namun sisi introvertku memengaruhi keputusanku. Terlebih lagi, dia bukan tipe lelaki yang aku idamkan. Hingga akhirnya dia lelah berjuang dan punya kekasih baru. Aku patah hati. Tanpa disadari ternyata aku mencintainya.

Baca Juga:   MU Memang Lemah Lawan Tim Spanyol

Tak berhenti di situ. Kehidupan sosialku juga rusak. Kelakuanku sering di luar kontrol. Aku bisa begitu gembira, tapi kadang aku bisa sangat sedih. Dalam emosi yang tidak stabil, aku melakukan kesalahan. Aku dirundung oleh banyak orang. Kondisi depresi membuatku tidak bisa berpikir secara jernih. Di saat-saat seperti itu, aku yang membutuhkan banyak kepedulian dan pertolongan justru mendapat banyak sekali kecaman dan komentar miring. Aku semakin sering menangis dan jatuh sakit. Meski kadang kala, aku masih bisa bersandiwara di depan banyak orang. Aku bisa tertawa dan tampak tidak punya masalah serius.

Aku pernah ke psikiater karena menyangka aku menderita bipolar. Aku pergi tanpa sepengetahuan keluargaku. Di sana aku sudah membayangkan jika aku benar-benar didiagnosis bipolar. Namun ternyata aku hanya disuruh curhat kepada mahasiswa S-2 yang sedang melakukan penelitian. Dokter juga hanya menanyai aku tentang beberapa hal dan memberikanku sedikit informasi tentang gangguan emosi. Jika aku merasa perlu kembali ke sana, aku dipersilakan kembali.

Seperti yang diharapkan dokter jiwa itu, aku menjadikan hari itu sebagai kunjunganku yang terakhir. Asumsinya adalah jika aku tidak kembali, kondisiku menjadi lebih baik. Namun aku tidak ke sana hanya karena aku memang lebih memilih untuk tidak kembali, bukan karena kondisiku membaik. Entah ada apa dengan keluargaku. Salah satu kakakku juga secara berjenjang mengalam depresi dan skizofrenia meski sekarang kondisinya sudah terkontrol.

Mencoba Memulai Kembali

Akhirnya aku menuruti permintaan orang tuaku untuk melanjutkan kuliah di PTS meskipun awalnya aku menolak. Aku menyelesaikan studiku selama empat semester. Depresiku belum selesai, datang silih berganti. Namun aku sudah dalam tahap berusaha menerima keadaan. Aku menerima segala kegagalan dan memaafkan orang-orang beracun di sekelilingku. Namun ternyata, maaf dan keikhlasan tidak bisa otomatis memperbaiki segalanya. Tubuhku masih ringkih dan mudah sakit.

Baca Juga:   Andreas Christensen Akui Sempat Kesepian di Chelsea

Ketika memasuki semester akhir, di saat-saat aku mulai menulis skripsi aku menjalani terapi selama kurang lebih tiga bulan. Kesehatanku naik drastis, pikiranku juga sudah lebih jernih. Ditambah lagi, keponakanku sebagai salah satu sumber stres utama sudah mulai membaik kondisinya. Masa-masa itu membuatku merasa terlahir sebagai orang baru. Aku bisa menulis skripsi dengan cepat sesuai target.

Hingga tulisan ini dibuat, masa wisudaku sudah berlalu enam bulan. Kini aku sudah bekerja di sebuah tempat yang suasananya cukup menyenangkan bagiku meski orang-orang terdekatku tidak mendukung pilihanku. Mereka ingin aku jadi PNS. Dan aku belum bisa memenuhi permintaan itu. Aku sedang ingin menjadi seorang perempuan keras kepala yang ingin memperjuangkan kebahagiaan sendiri.

What doesn’t kill you makes you stronger. Kalimat yang dulu hanya kuanggap sekadar slogan bijak itu kini kurasakan kebenarannya. Waktu membentukku menjadi perempuan yang lebih tangguh. Aku masih terus dalam proses memaafkan dan mengikhlaskan segala yang pernah terjadi. Memaafkan diri sendiri yang pernah begitu buruk dan begitu hancur serta memaafkan orang lain yang pernah membuatku sakit. Di tubuhku masih banyak luka. Tapi aku bisa baik-baik saja.