Dolar Ngamuk, Suzuki Masih Tahan Harga Mobil

REKANBOLA –  Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) masih saja menguat terhadap rupiah yakni di angka Rp 14.000-an. Kuatnya nilai tukar tersebut sudah berselang cukup lama dan membuat beberapa pabrikan otomotif menaikkan harga produknya.

Karena, meskipun mobil atau motor sudah diproduksi di dalam negeri, beberapa komponennya masih dibeli menggunakan dolar AS. Sehingga melemahnya rupiah terhadap dolar AS cukup berpengaruh kepada harga jual kendaraan itu sendiri.

PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) menyadari hal tersebut. Tetapi, mereka mengatakan bahwa masih menahan harga jual produknya sampai pada titik tertentu. Meski dolar terus merangkak naik, Marketing Director 4W PT SIS, Donny Ismi Saputra menjelaskan bahwa untuk masalah harga produksi itu sendiri memang bukan hanya kurs yang mempengaruhi.

“Kalau kita bicara kurs, biaya produksi kan macam-macam ya. Pertama cost production, ada material, dan di dalamnya juga ada biaya kurs juga. Kalau harga sendiri pengaruhnya seperti biaya produksinya, regulasinya misal BBM naik,” ujar Donny saat berbincang dengan wartawan di Jakarta.

Adapun dalam menghadapi masalah ekonomi saat ini, PT SIS memiliki beberapa strategi yang dilakukan di antaranya adalah dengan memfokuskan produk-produk yang biaya produksi untuk komponennya berada di Indonesia.

“Kalau spesifik bicara kurs, sebetulnya strategi yang kita lakukan adalah pertama, Suzuki ini fokus dengan produk-produk yang kita produksi di Indonesia. Salah satu contohnya New Ertiga, lokal komponen kita kan udah sampai di angka 84 persen, jadi efek ke harga dari kurs tersebut tidak terlalu signifikan, jadi lebih ke faktor internal saja,” papar Donny.

 

 

 

Baca Juga :