Eropa Tunda Larangan CPO, Pengusaha RI Belum Puas

Rekanbola – Uni Eropa memutuskan untuk menunda pelarangan total penggunaan biofuel berbasis minyak kelapa sawit dari 2021 menjadi 2030.

Direktur Eksektutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Danang Girindrawardana mengatakan pihaknya menyambut baik keputusan tersebut.

“Saya melihat pemerintahan saat ini telah penuh upaya melawan diskriminasi perdagangan dari EU terhadap sawit,” kata Danang kepada CNBC Indonesia, Selasa (19/6/2018).

Namun, dia juga mengatakan seharusnya penggunaan biofuel berbasis CPO tidak dibatasi sama sekali oleh Uni Eropa.

Menurutnya, minyak nabati yang lain seperti rapeseed oil atau minyak kedelai justru menggunakan lahan hutan 4-10 kali lebih besar daripada yang dipakai sawit, tetapi mereka tidak diperlakukan buruk seperti komoditas sawit.

Danang meminta seluruh pelaku industri perkebunan sawit Indonesia harus mulai meminimalisir ketergantungan dengan pasar EU.

Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan memaksimalkan ekspor ke pasar non-tradisional seperti Pakistan, Bangladesh, dan negara-negara Afrika.

“Saya tidak mau nasib petani dan pekerja sawit dipertaruhkan oleh kelakuan negara lain,” pungkasnya.

Kendati demikian, lanjut dia, penundaan pelarangan oleh Uni Eropa ini diharapkan dapat meningkatkan kembali ekspor biofuel dan produk turunan CPO lainnya ke pasar Uni Eropa.

Berdasarkan data Gapki, pada Kuartal I-2018 ekspor CPO dan produk turunannya ke Uni Eropa pada bulan Maret naik 38% dibandingkan Februari (month to month).
(Sumber : cnbcindonesia.com)

Baca Juga:   MU Didakwa UEFA Karena Datang Telat ke Old Trafford