Generasi Millennials Wajib Tahu Nih! Bertani Zaman Now yang Bisa Kamu Terapkan Mulai dari Sekarang

Rekanbola.com –  Kata bertani mungkin terdengar tidak seksi bagi generasi millennials yang tiap detiknya lengket dengan smartphone dan media sosial. Tahu nggak, gerakan ekonomi baru yang dipelopori anak muda di negara-negara maju seperti Singapura hingga Amerika Serikat justru mengarah ke dunia pertanian. Eits, tunggu dulu, bukan pertanian seperti yang kita bayangkan dan seperti di buku-buku sekolah. Mereka justeru memanfaatkan lahan-lahan yang ada di sekitar rumah hingga halaman depan milik orang lain untuk ditanami tanaman konsumsi. Sayuran, buah, kacang-kacangan, hingga berbagai jenis herbs dan spices (tanaman bumbu) yang bisa dipanen berkala.

Jangan membayangkan mereka bertani di sawah dan menggarap berhektar-hektar lahan ya. Mereka rata-rata hanya menggarap pekarangan hingga sisa lahan yang ada di sekitar. Konsep dasarnya adalah Grow Your Own Food. Sayangnya, konsep itu mungkin belum populer di Indonesia. Tapi, di tahun 2018 ini, gerakan-gerakan serupa akan banyak muncul dan biasanya dari perkotaan.

Awal mula munculnya urban farmers

Beberapa hal yang membuat para millennials itu berpikir untuk menanam makanan sendiri adalah pemikiran untuk tidak pasrah pada sistem ekonomi yang kini mendominasi, yakni kapitalisme. Konsep itu juga banyak dikembangkan dengan sebutan urban farming. Saking gamblangnya, mereka banyak menanam di kawasan perumahan di kota besar.

Para urban farmers ini ternyata juga bukan orang-orang sembarangan. Rata-rata para pelopor urban farmers adalah mantan karyawan di perusahaan-perusahaan dengan upah yang tinggi. Mereka lalu keluar dari pekerjaannya dan memutuskan untuk mulai bertani dan mencukupi kebutuhannya dari yang mereka tanam. Tak jarang, pendapatan bulanan dari bertani ini mencapai $5000 USD hanya dari menanami pekarangan milik tetangganya di suatu perumahan. Seperti yang bisa dilihat di channel YouTube milik Justin Rhodes ini.

Baca Juga:   10 Momen cewek apes terjepit ini melihatnya bikin ikutan sesak

Keluar dari pekerjaan tetap untuk bertani

Para urban farmers ini juga kebanyakan berpendidikan tinggi sehingga mereka memahami betul pilihan mereka untuk keluar dari pekerjaan harian dan memilih bertani. Bahkan, beberapa dari mereka mengakui konsep hidup mereka berubah karena ingin bebas dari kapitalisme. Dengan menanam makanan mereka sendiri lalu menjual sisanya, mereka bisa bertahan bahkan mendapatkan uang. Selain juga mereka punya kebebasan dalam menentukan pilihan-pilihan hidup lain.

Membentuk komunitas urban farmers

Selain tidak bergantung pada perusahaan besar untuk suplai makanan harian mereka, beberapa urban farmers juga memilih untuk membentuk komunitas. Ada sedikitnya tujuh komunitas di salah satu negara bagian di Amerika Serikat yang sudah memulai gerakan ini. Salah satunya di Twin Oaks, di Louisa County (Virginia) yang memiliki komunitas mandiri, mulai dari pertanian hingga produk yang bisa dijual ke luar.

 

Selama 30 tahun terakhir, Twin Oaks bisa menjamin kehidupan sehari-hari anggota komunitasnya mulai dari tempat tinggal, makanan, hingga asuransi kesehatan. Bisnis mereka mulai dari produksi hammock dan menjual berbagai produk makanan, termasuk tahu. Bayangkan tahu yang hampir tiap hari ada di menu makanan orang Indonesia!

Konsep grow your own food yang menarik

Dari pengalaman saya, menanam makanan sendiri memang tidak mudah. Bahkan saat mencoba menanam salah satu jenis kacang, yakni Christmast Lima Beans, saya harus menunggu hingga sekitar 5 bulan. Tapi, saat panen, ternyata saya bisa menikmatinya sendiri dan dibagikan pada orang lain. Konsep yang sangat menarik dari grow your own food ini salah satunya ialah menanam untuk dimakan, tidak hanya dijual, sehingga kamu punya kebebasan mengenai pilihan tanaman yang akan kamu budidayakan.

Baca Juga:   10 Video parodi Bu Dendy ala warganet ini dijamin ngocok perut

Dari lahan seluas 100 meter persegi saja, kamu bisa menanam belasan jenis tanaman. Misalnya, jagung, kacang-kacangan, sayuran, cabai, bawang, hingga buah-buahan semusim. Selain memangkas biaya belanja, ternyata urban farming juga membuat kamu makin sehat. Kamu tentu akan lebih banyak bergerak saat merawat tanaman, mulai dari menyiapkan tanah, hingga saat memroses panen.

Tertarik dengan konsep urban farmingYuk, coba lakukan terobosan yang bisa bermanfaat di masa depan ini. Siapa tahu kelak kamu bisa jadi penggagas urban farmingdi Indonesia!

 

**Jangan Lupa mampir di lapak lainnya Gaes!!

Baca Juga :

 

Hasil gambar untuk MInion logo