Google Belum Berhasil Menciptakan Karyawan yang Heterogen

Rekanbola – Upaya Google untuk membuat komposisi karyawan lebih heterogen tampaknya masih belum berhasil. Laporan terbaru dari Google mengungkapkan hanya sedikit perubahan yang terjadi meskipun raksasa teknologi itu berkomitmen meningkatkan heterogenitas karyawan, baik dari sisi gender dan ras.

Secara keseluruhan, hampir 70% karyawan Google adalah pria. Melansir dari situs berita BBC, hal ini sudah terjadi sejak tahun 2014.

Di Amerika Serikat (AS), hampir 90% karyawannya berkulit putih dan Asia, sementara 2,5% karyawan berkulit hitam dan 3,6% berasal dari Amerika Latin.

Laporan itu juga menunjukkan laju pengurangan karyawan berkulit hitam dan berasal dari Amerika Latin adalah yang tertinggi di tahun 2017 karena banyak yang memutuskan untuk keluar.

“Meski terdapat upaya signifikan dan beberapa kesuksesan, kami harus lebih berusaha lagi untuk meraih hasil keragaman dan inklusi yang kami inginkan,” tulis Danielle Brown selaku Wakil Direktur Keragaman Google dalam laporan tahunannya.

Brown berkata perusahaan itu akan meningkatkan transparansi dan melibatkan pemimpin senior ke dalam pekerjaan terkait keragaman supaya mendorong perkembangan.

Angka lain yang diungkap dalam laporan itu termasuk:

  • Hanya ada lebih dari 25% pemimpin perempuan di perusahaan itu pada tahun 2018, naik hampir 5% sejak tahun 2014.
  • Dari seluruh karyawan di AS yang direkrut tahun 2017, 31,2% diantaranya adalah perempuan meski jumlahnya turun menjadi 24,5% pada karyawan yang baru direkrut.
  • Di AS, kurang dari 67% posisi kepemimpinan dijabat oleh karyawan berkulit putih. Sementara hanya 2% karyawan berkulit hitam yang duduk di kursi pemimpin.
  • Karyawan berkulit putih dan Asia adalah kalangan mayoritas di semua area, baik teknologi, non teknologi, kepemimpinan dan keseluruhan.
  • Di bidang non teknologi, peran gender hampir seimbang dengan sekitar 48% perempuan dan 52% laki-laki.
Baca Juga:   Dell Kembali Jadi Perusahaan Publik

Tahun lalu, mantan karyawan Google bernama James Damore dipecat setelah menulis memo internal yang mengatakan hanya ada beberapa perempuan yang bisa menduduki posisi teratas di perusahaan karena perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan.

“Kita harus berhenti berasumsi bahwa kesenjangan gender menyiratkan seksisme,” tulisnya.

Sementara ini adalah kali pertama angka-angka itu dirilis di tahun 2018, data di Google secara luas sejalan dengan pemain besar lainnya di sektor teknologi. Pasalnya, mereka juga sudah lama berjuang memperluas keragaman tenaga kerjanya.

Data keragaman Microsoft di tahun 2017 mengungkapkan pembagian gender di divisi kepemimpinan dan teknologi adalah 81% laki-laki dan 19% perempuan.

Di bidang kepemimpinan, 66,8% karyawan adalah yang berkulit putih dan 2,2% berkulit hitam atau Afro-Amerika. Sementara di bidang teknologi, 53% karyawannya berkulit putih dan 2,7% berkulit hitam.

Facebook mengungkapkan 28% karyawan pemimpin senior global di tahun 2017 adalah perempuan. Di AS 71% pemimpin di perusahaan raksasa media sosial itu adalah orang kulit putih dan 3% pemimpin berkulit hitam.

 

 

(Sumber : cnbcindonesia.com)