Ikuti Wall Street, Harga Minyak Mentah Menguat di Awal Tahun

Rekanbola – Harga minyak dunia menguat sekitar 2 persen pada perdagangan yang bergejolak di awal tahun, Rabu (2/1), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipicu oleh pemulihan tipis pasar saham Wall Street.

Namun, kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan global yang akan menekan permintaan minyak tetap membayangi. Dilansir dari Reuters, Kamis (3/1),harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$1,11 atau 2,1 persen menjadi US$54,91 per barel. Selama sesi perdagangan harga Brent bergerak di kisaran US$52,51 hingga US$56,56 per barel.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,13 atau 2,5 persen menjadi US$46,54 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung harga WTI sempat menyentuh level US$47,78 per barel.

Baru-baru ini harga minyak mentah bergerak paralel dengan kinerja Wall Street yang pada tahun ini mencatatkan kinerja tahunan terburuk dalam satu dekade terakhir.

Sementara, data industri manufaktur China teranyar menambah kekhawatiran terhadap perlambatan laju pertumbuhan ekonomi global. Aktivitas pabrik di China mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun terakhir pada Desember lalu. Kondisi tersebut menghadapkan China pada tantangan untuk mengakhiri perang dagang dengan AS.

“Kami masih memandang sejumlah sandungan di perekonomian China sebagai faktor penekan harga (bearish) yang signifikan mengingat fakta China merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia,” ujar Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Aktivitas manufaktur di Uni Eropa juga mengecewakan. Berdasarkan sebuah survei, kegiatan tidak banyak mengalami ekspansi pada akhir 2018.

Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dan kelebihan pasokan telah menyeret harga minyak dari level tertinggi selama beberapa tahun terakhir yang dicapai pada awal Oktober 2018. Harga minyak mentah tercatat melandai pada akhir 2018, pertama kalinya sejak 2015. Brent tercatat turun 21 persen dan WTI merosot 25 persen.

Baca Juga:   PKS Pertanyakan Mengapa Kasus Habib Bahar Diangkat di Tahun Politik

Produksi minyak di sejumlah produsen minyak utama dunia meningkat. Produksi Rusia mencatatkan rekor tertinggi sejak periode Uni Soviet pada 2018. Kemudian, produksi AS mencatatkan rekor produksi tertinggi pada Oktober 2018 dan Iran meningkatkan ekspor minyaknya pada Desember lalu.

Melesatnya produksi minyak shale telah membantu AS menjadi produsen minyak terbesar di dunia, di atas Arab Saudi dan Rusia. Produksi minyak di ketiga negara tersebut telah berada atau hampir menyentuh level tertinggi sepanjang tahun lalu.

Kenaikan produksi menggambarkan tantangan yang dihadapi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Dalam hal ini OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, telah sepakat untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) untuk mendongkrak harga.

Kendati demikian, Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al Mazroui tetap optimistis keseimbangan pasar dapat tercapai pada kuartal pertama 2019. Uni Emirat Arab merupakan salah satu anggota OPEC.