ISIS Ancam Balas Dendam Serangan Penembakan di Selandia Baru

REKANBOLA – Setelah bungkam selama berbulan-bulan selepas Amerika Serikat menyatakan telah mengalahkan ISIS di Suriah, juru bicara ISIS kembali angkat bicara. Kali ini, kelompok teroris itu menanggapi serangan teror penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru pada Jumat (15/3) lalu.

Juru Bicara ISIS, Abu Hassan al-Muhajir mengancam kelompoknya akan membalas serangan yang menewaskan 50 orang tersebut. “Adegan pembantaian di dua masjid harus membangunkan orang-orang yang dibodohi, dan harus membangkitkan para pendukung kekhalifahan untuk membalas (demi) agama mereka,” ujarnya dalam rekaman audio 44 menit, Rabu (20/3).

Al Muhajir menggambarkan penembakan oleh seorang ekstrimis kulit putih itu sebagai perpanjangan tangan kampanye melawan ISIS. Dia menyamakan serangan masjid itu dengan pertempuran selama berminggu-minggu di desa terakhir yang dikuasai kelompoknya di Suriah.

“Ini adalah Baghuz di Suriah. Di sini umat Islam dibakar sampai mati dan dibom oleh semua senjata pemusnah massal yang diketahui dan tidak diketahui,” katanya.

Dalam rekaman itu, Muhajir juga meremehkan klaim kemenangan yang diutarakan Gedung Putih atas ISIS. Dia menyebut klaim itu sebagai sebuah kebingungan dan kontradiksi sehingga mustahil bagi para pengamat untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kata ‘kemenangan.’

Kendati ISIS kehilangan semua bagian dari wilayah yang pernah dikuasainya di Irak dan Suriah, para pejabat militer mengatakan kelompok itu tetap menjadi ancaman yang kuat.

Muhajir adalah nama samaran dan nama aslinya tak diketahui. Dia anggota ISIS yang tak pernah tampil bahkan dalam sejumlah foto atau video yang dirilis kelompok itu. Seluk beluk dan latar belakangnya juga tak diketahui. Kendati demikian, dia disebut figur penting dalam organisasi teroris itu.

Baca Juga:   Dua Remaja di Tangerang Meninggal Tertimpa Bangunan Rumah Saat Berteduh

Ketika pasukan anti-ISIS mengejar Muhajir dan anggota senior kelompok militan lainnya, diasumsikan mereka menghindari deteksi dengan cara menghindari perkakas elektronik, terutama ponsel, dan membatasi kontak dengan kurir, yang pergerakannya dapat dilacak. Hal ini kemudian menimbulkan sejumlah pertanyaan: Bagaimana dia tahu tentang pembantaian muslim di Selandia Baru? Apakah dia bersembunyi di sebuah rumah di Irak atau Suriah dan mengandalkan liputan TV lokal? Apakah salah seorang pembantunya menyampaikan berita itu kepadanya?